Wisata

Bali, Model Pariwisata Ramah Lingkungan

Kompas.com - 02/07/2010, 20:31 WIB

SUDAH tiga kali Nengah Suastini (46) pergi ke Jepang, yakni tahun 1997, 2002, dan Juni 2010. Semuanya dalam rangka pameran pariwisata. Ia membawa keahlian, produk, sekaligus warisan leluhurnya: kain gringsing.

Ia mempraktikkan proses penenunan kain gringsing itu selama ikut dalam pameran pariwisata dan perdagangan ”Modern Bali & Asia Style in Japan 2010” di Sagamihara dan Urawa, Jepang, 7-15 Juni 2010. Dari pagi hingga petang, mengenakan pakaian adat khas Bali, Suastini menenun. Ia menjawab semua pertanyaan pengunjung pameran dengan ramah.

Diikutsertakannya kain gringsing, proses pembuatannya, dan pembuatnya dalam pameran itu patut diapresiasi. Tidak hanya untuk mengembalikan kembali tingkat kunjungan wisatawan Jepang yang tengah lesu pada awal tahun ini. Lebih dari itu, rupanya para pemangku kepentingan di negeri ini ataupun di Bali masih sepakat bahwa pariwisata ramah lingkungan dan berkelanjutan adalah model yang harus terus didukung dan dihidupi.

Kain gringsing adalah sebutan khas untuk menyebut produk kain tenun ikat khas Tenganan Pagringsingan, salah satu desa aga di Kabupaten Karangasem, Bali. Lewat kain itulah sehari-hari Suastini hidup.

Ia menghidupi, misalnya, penggunaan teknik dobel ikat yang memakan waktu lama, hingga beberapa bulan, serta penggunaan bahan-bahan alami dari aneka dedaunan dan akar untuk pewarnaan kain gringsing. Sebuah proses yang bertentangan dengan praktik kebanyakan produk yang didorong oleh kebutuhan pasar, yakni proses produksi cepat dan kebanyakan menggunakan bahan-bahan tiruan atau kimia.

Bali boleh bangga, Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) memilih pulau itu sebagai model dalam pengembangan pariwisata ramah lingkungan atau green tourism di dunia. Salah satu dasarnya adalah Bali dianggap mampu mengembangkan kepariwisataan berbekal kearifan lokal dan filosofi untuk menjaga keseimbangan alam, yaitu Tri Hita Karana.

”Bali mampu menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan sebagaimana terejawantah dalam konsep Tri Hita Karana. Kearifan itu masih hidup dan dipegang teguh hingga sekarang,” kata Asisten Sekjen UNWTO Geoffery Lipman dalam presentasi pemilihan Bali sebagai model pariwisata ramah lingkungan di kantor Gubernur Bali, Denpasar, akhir tahun lalu.

Konsep ramah lingkungan melekat dengan ekonomi hijau (green economy) yang mencakup antara lain penurunan produksi karbon dioksida, investasi ramah lingkungan, penggunaan energi alternatif, serta kelestarian keanekaragaman hayati. Namun, aplikasi konsep itu memperoleh tantangan aktual, terutama bila dihadapkan pada sejumlah persoalan terkait perubahan iklim yang dikhawatirkan berdampak pada kerusakan lingkungan di Bali. Salah satu fenomena mencolok yang terlihat adalah abrasi di kawasan pesisir.

Selain di Tenganan, praktik berwawasan hijau yang tetap dipraktikkan dan laku dijual kepada para turis masih banyak ditemui. Sebut saja Desa adat Penglipuran di Kabupaten Bangli ataupun Desa Wisata Kertalangu di Kota Denpasar yang baru dikembangkan beberapa tahun lalu. Juga ada praktik pertanian ekologis di Jatiluwih, Tabanan. Kawasan itu bahkan diusulkan menjadi warisan budaya dunia ke PBB.

Pemberi hidup

Bagi masyarakat Penglipuran, bambu merupakan pelindungan sekaligus pemberi hidup.

Sekitar 75 hektar atau lebih dari 50 persen dari total lahan seluas 112 di Penglipuran adalah hutan bambu. Hutan itu mengelilingi hampir seluruh wilayah desa, mulai dari arah timur laut desa, utara, barat, dan selatan desa. Dari total 75 hektar itu, 5 hektar di antaranya tanah milik desa yang dikelola para pengurus desa adat setempat. Dari 5 hektar itu, 1,5 hektar di antaranya melingkupi kawasan pura desa setempat.

Keberadaan hutan bambu di desa itu disesuaikan dengan tata guna lahan yang diteruskan secara turun temurun sesuai dengan awig-awig (aturan) desa setempat. Dari total lahan seluas 112 hektar di Penglipuran, misalnya, telah jelas penggunaannya. Kawasan pertanian di desa itu meliputi lahan seluas 25 hektar, permukiman 9-10 hektar, dan tempat suci sekitar 2 hektar.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan, citra Bali sebagai daerah tujuan wisata ramah lingkungan di dunia diharapkan mampu mendatangkan wisatawan yang berkualitas. Ke dalam, hal itu sekaligus makin memperkuat tekad upaya menjaga kelestarian alam dan budaya.

”Ini juga menjadi tantangan Bali untuk semakin melestarikan alamnya. Sebab, tak dimungkiri pula pariwisata telah membuat orang berpindah ke kota dan enggan menjadi petani. Kalau pertanian dapat dikembangkan, orang tidak akan ramai-ramai ke kota. Sekaligus membuat Bali lebih hijau,” kata Pastika beberapa waktu lalu. (BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau