Belanda Menatap Final

Kompas.com - 03/07/2010, 03:32 WIB

Port Elizabeth, Jumat - Belanda menatap final Piala Dunia 2010 setelah menyingkirkan Brasil 2-1 (0-1) pada laga perempat final di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Jumat (2/7). Kemenangan ini membuka harapan bagi Belanda untuk mengukir sejarah menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Di semifinal, Belanda menghadapi pemenang pertandingan perempat final lainnya antara Uruguay dan Ghana yang sampai berita ini turun masih bertarung.

Bagi Belanda, kemenangan ini sekaligus membalas kekalahan mereka di dua Piala Dunia sebelumnya atas Brasil. Sebelumnya Belanda kalah di babak perempat final tahun 1994 dan semifinal di tahun 1998.

Kemenangan Belanda ini juga membuka harapan meraih gelar juara dunia yang pertama sekaligus menghapus julukan yang melekat pada mereka sebagai ”The Best Team Never to Win a Cup”.

Julukan ini disematkan kepada Belanda karena mereka selalu tampil bagus di setiap Piala Dunia, tetapi selalu kandas dan gagal meraih juara. Pada Piala Dunia 1974 dan 1978, Belanda dua kali bertanding di final, tetapi kandas dari tuan rumah Jerman dan Argentina.

Kali ini, Belanda juga tampil luar biasa. Mereka superior sejak babak kualifikasi Zona Eropa dengan mencatat hasil sempurna di delapan pertandingan. Penampilan gemilang itu mereka lanjutkan di babak penyisihan Grup E.

Bergabung bersama Denmark, Kamerun dan Jepang, Belanda tampil sebagai pemuncak dengan mengalahkan pesaingnya itu. Di perdelapan final, Belanda juga mengempaskan Slowakia sebelum mengalahkan Brasil.

Selain pemain, kegembiraan juga dirasakan asisten pelatih Belanda, Ronald De Boer. De Boer merupakan mantan kapten tim Belanda yang dua kali berturut-turut ditaklukkan Brasil di Piala Dunia 1994 dan 1998.

Permainan pragmatis

Pertandingan antara Brasil dan Belanda yang sebelumnya diperkirakan berlangsung menarik dengan sepak bola indah tak terjadi. Brasil dan Belanda sama-sama bermain pragmatis dengan strategi bertahan dan melakukan serangan balik.

Permainan indah ”Jogo Bonito” milik Brasil maupun total football miliki Belanda sama sekali tidak keluar. Brasil bisa unggul terlebih dahulu dari Belanda setelah mampu memanfaatkan kesalahan dua center back mereka yang tidak mengawal ketat Robinho.

Felipe Melo yang bergerak di lini tengah dengan cermat melihat posisi Robinho yang tak terkawal. Umpan menyusur tanahnya langsung menuju Robinho yang tinggal menghadapi penjaga gawang Belanda Maarten Stekelenburg.

Robinho yang tak terkawal tanpa kesulitan menyontek bola membobol gawang Belanda.

Pertahanan Belanda memang lebih tidak tertata dengan rapi dibanding Brasil. Pemain-pemain Belanda juga sering membuat kesalahan, permainan mereka juga tidak terkoordinasi rapi.

Namun, di babak kedua, Belanda justru berbalik mendominasi pertandingan. Ini tak lepas dari strategi Brasil yang memilih bertahan setelah unggul satu gol.

Gol bunuh diri Felipe Melo menjadi titik balik kehancuran Brasil. Sebaliknya Belanda semakin percaya diri dan menambah satu gol melalui tandukan Wesley Sneijder.

Tertinggal 1-2, pemain Brasil justru frustrasi. Puncaknya dengan dikartumerahkan Felipe Melo yang menginjak Arjen Roben.

Pertandingan antara Brasil dan Belanda selalu berlangsung ketat. Dalam sejarahnya sejak Piala Dunia 1994, kedua tim bermain epik, kali ini Sneijder pahlawannya.

Meski menang, sepak bola indah Belanda, total football sama sekali tak terlihat. Pelatih Belanda Bert van Marwijk mengatakan, permainan indah ala Belanda dan Brasil memang akan hilang dalam pertandingan-pertandingan besar seperti Piala Dunia. ”Saya tahu tim Brasil memainkan sepak bola indah, begitu juga dengan Belanda. Tetapi tidak ada banyak ruang untuk sepak bola 'total' atau ’samba’,” ujar Van Marwijk.

”Olahraga telah berubah dan semuanya berjalan lebih cepat. Semua tim sudah lebih terorganisasi sehingga Anda tidak bisa memperlihatkan sepak bola seperti itu di Piala Dunia,” ujarnya.

”Secara normal saya menikmati gaya sepak bola mereka, tetapi sekarang mereka memiliki masalah untuk menciptakan peluang, dan saya yakin, mereka melakukannya kurang dari apa yang pernah dilakukan,” katanya lagi.

Sebelumnya, pelatih Brasil Carlos Dunga menepis kritik yang mengatakan dia sudah menanggalkan sepak bola menyerang.

”Setiap perdebatan itu positif. Jika kita memiliki 1.000 kepala untuk berpikir, tentu saja itu lebih bagus dibandingkan cuma satu. Ada yang berguna, ada yang tidak. Setiap orang memandang sepak bola dengan cara yang berbeda, seperti halnya gaya satu pemain pasti berbeda dengan lainnya. Kami harus mengenali hal yang bagus dan buruk,” ujarnya. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau