Di balik sukses Uruguay melangkah ke semifinal Piala Dunia 2010, semifinal pertama mereka dalam 40 tahun terakhir, peran Pelatih Oscar Washington Tabarez sangat kuat. Ia bukan saja jeli meramu pemain, menyusun taktik, atau menanamkan rasa percaya diri kepada pemainnya, tetapi lebih penting lagi meredakan karakter temperamental yang selama ini melekat pada pemain Uruguay.
Setelah lolos ke semifinal 1970, beberapa kali langkah Uruguay kandas dan baru lima kali lolos ke Piala Dunia, termasuk tahun 2010. Ketika lolos pun, ”La Celeste” sering kandas di 16 besar atau babak penyisihan. Salah satu penyebabnya, banyak pemain pilar mereka absen karena skorsing akumulasi kartu.
Sebelum menyingkirkan Ghana lewat adu penalti 4-2 di perempat final, Jumat (2/7), pemain Uruguay hanya mengantongi tiga kartu kuning plus kartu merah hasil akumulasi kartu kuning. Itu sebabnya, saat mulai tampil di babak hidup-mati (knock out), tim mereka relatif masih utuh.
”Dia cukup kalem sebagai pelatih, banyak pengalaman, dan tahu betul cara menangani tim,” kata Diego Forlan, striker Uruguay. Para pemain Uruguay lainnya merasakan hal yang sama. ”Pengalaman yang dimiliknya sejak Piala Dunia 1990 dan bersama tim-tim lainnya sangat membantu kami.”
Tabarez adalah pelatih paling tua di antara delapan tim perempat finalis. Dalam usianya ke-63 tahun, ia mencapai puncak kematangannya. Pembawaannya tenang, dengan jas dan dasi. Wajahnya selalu tersenyum saat menyampaikan keterangan pers.
Wartawan Uruguay atau negara Amerika Selatan lainnya biasa menyapa dengan panggilan ”Maestro” atau ”Profesor”. Hampir tak pernah terdengar mereka memanggil nama langsung, seperti yang mereka lontarkan kepada Carlos Dunga (Brasil) atau Diego Maradona (Argentina). Dipanggil ”El Maestro”, yang artinya ”guru”, karena Tabarez pernah menjadi guru sekolah.
Ia penggemar Che Guevara, aktivis gerakan revolusioner kawasan Amerika Selatan. Marcela Mora y Araujo, pengamat sepak bola Amerika Selatan, mencatat, salah satu moto Guevara ”Seseorang harus keras pada diri sendiri tanpa kehilangan kelembutan” bergantung pada tembok rumahnya di Montevideo.
Sehari sebelum laga melawan Ghana, dalam jumpa pers di Soccer City, Tabarez dipancing pertanyaan soal kemungkinan duel lawan Brasil di semifinal. Momentum yang mengingatkan duel bersejarah di Maracana tahun 1950 di mana Uruguay memukul tuan rumah Brasil di final.
Namun, dengan senyum khas di wajahnya, Tabarez mengatakan tak mau terpengaruh dengan catatan harum masa lalu. ”Saya berusaha tidak berpikir hal-hal seperti itu karena bisa memengaruhi konsentrasi meski Anda sudah berusaha menghindarinya,” ujarnya.
Ia terbukti benar. Memikirkan duel lawan Brasil bakal sia-sia karena juara dunia lima kali itu dipukul Belanda 1-2. Selain itu, memori 1930 dan 1950 tersebut jauh dari ingatan generasi sepak bola Uruguay sekarang. Sudah lama, kejayaan sepak bola Uruguay terkubur di bawah dominasi Brasil dan Argentina.
Seusai memukul Ghana, Tabarez ”diserang” pertanyaan soal aksi curang striker Luis Suarez yang menahan bola dengan tangan untuk mencegah gol kemenangan Ghana pada menit terakhir babak perpanjangan waktu. Sambil tersenyum, ia balik bertanya, ”Apakah Suarez juga harus dipersalahkan atas kegagalan penalti Ghana?”
Peristiwa menit-menit terakhir dan drama adu penalti itu mengingatkan pada identitas sepak bola ”Garra Charrua”, istilah merujuk pada kemenangan yang diraih ketika kekalahan seperti sudah di depan. Tabarez mengungkapkan berbangga bisa memberi kegembiraan pada rakyat Uruguay yang hanya sekitar
Sukses Uruguay ini tidak datang dalam waktu semalam. Tabarez mulai menyiapkan tim sejak 2006 saat ia ditunjuk melatih tim nasional. Ia pernah menangani ”La Celeste” di Piala Dunia 1990 Italia, saat Uruguay kandas di putaran kedua, atau tiga tahun setelah ia mengantarkan klub Penarol (Uruguay) juara Piala Libertadores 1987.
Untuk Piala Dunia kali ini, Tabarez belajar dari pengalaman 1990. Saat itu, ia membawa timnya beruji coba di daratan Eropa dua bulan sebelum turnamen. Meski sempat memukul Inggris pada uji coba di Wembley dan menahan Jerman 3-3, Uruguay terhenti di putaran kedua. Terlalu lama meninggalkan keluarga memengaruhi mental pemain.
Itu sebabnya, kali ini ia tidak terlalu cepat membawa timnya berangkat dari Montevideo, ibu kota Uruguay. Apalagi, iklim Montevideo dengan Afrika Selatan tak jauh berbeda. Namun, yang terpenting dari peran Tabarez, kemampuannya menyatukan pemain dan meramu talenta-talenta produk ”pabrik sepak bola Uruguay”.
Padahal, selama empat tahun mempersiapkan tim, Tabarez mengalami lima kali pergantian Ketua Umum Asosiasi Sepak Bola Uruguay (PSSI-nya Uruguay). Setelah menapak semifinal, Belanda lawan mereka, dua langkah lagi Tabarez menghadirkan memori kejayaan sepak bola Uruguay, seperti 1930 dan 1950. Mungkinkah?
(Mh Samsul Hadi