Piala dunia 2010

Ketika Senja Sudah Tiba

Kompas.com - 05/07/2010, 05:47 WIB

Oleh SINDHUNATA

Andaikan pada hari Sabtu saya boleh bebas untuk mempunyai keinginan, keinginan saya adalah menjadi pemain melawan Jerman.” Begitu dikatakan trainer Diego Maradona menjelang pertarungan hidup-mati Argentina melawan Jerman, Sabtu (3/7) lalu.

Saking getolnya untuk menumbangkan Jerman, Maradona seakan lupa bahwa sekarang ia adalah pelatih dan bukan pemain lagi. Namun, Maradona adalah ”dewa bola”. Jadi di dunia bola kesuksesan apa saja bisa didatangkannya. Kali ini pun ia yakin bahwa ia bisa mengulang lagi peristiwa ketika ia memimpin Argentina menjungkalkan Jerman dalam final Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Waktu itu, dalam pertandingan final di Stadion Azteka, Argentina sudah meninggalkan Jerman dengan skor 2-0. Jerman kemudian bisa menyamakan kedudukan, 2-2. Namun, kemudian terjadilah peristiwa yang tak terduga ini: dari lapangan tengah, Maradona mengirimkan sebuah umpan terobosan.

Bek Jerman Hans-Pieter Briegel lari menghadang. Hanya kurang dari setengah meter bola sudah akan berada di jangkauan kaki Briegel. Toh ia tetap terlambat. Umpan dari Maradona itu sudah keburu diceploskan oleh Burruchaga ke gawang Toni Schumacher. Kedudukan 3-2, dan Argentina menjadi juara dunia.

”Sejak saat itu, empat tahun sekali, dalam setiap Piala Dunia, adegan saya terlambat itu selalu ditayangkan oleh televisi Jerman. Saya penasaran. Rasanya suatu saat, saya pasti dapat merebut bola dari kaki Burruchaga. Saya tunggu saat itu setiap empat tahun sekali,” tutur Hans-Pieter Briegel mengenang saat ia terpecundangi itu.

Keinginan Briegel akhirnya terpenuhi setelah siklus empat tahunan bola tersebut berputar sekian kali sampai pada Piala Dunia 2010 ini. Dalam pertandingan perempat final lalu, ”anak-anak turunan Briegel”, Bastian Schweinsteiger dan kawan-kawannya berhasil menumpas ”anak-anak turunan Maradona” dengan skor telak, 4-0.

Kekalahan telak ini sangat pahit, bukan hanya untuk Argentina, melainkan juga untuk Maradona. Bagi Maradona, kekalahan itu bagaikan ”senja yang memudarkan keilahiannya dalam dunia bola”.

El dios de futbol, ”Dewa atau Tuhan Sepak Bola”, itulah julukan Maradona. Riwayat awalnya sendiri sudah mengisahkan bahwa ia seakan ”diinkarnasikan” ke dunia untuk menjadi dewa bola. Ia lahir di Villa Fiorito, sebuah perkampungan kumuh di tepi Buenos Aires.

Ia sangat miskin, orang pun tak kenal siapa namanya. Lalu ia ditemukan secara kebetulan oleh Francis Cornejo, pencari bakat untuk pemain-pemain yunior di Argentina. Dasar sudah takdir inkarnasinya, ia pun menjadi pemain besar, yang kemudian bernama Diego Maradona.

D10S, sandi huruf dan angka ini berbunyi ”dios”, yang artinya tuhan. Namun, sandi itu juga menunjuk pada nomor punggung 10, yang dikenakan Maradona. Dengan sandi itu, Maradona memang dianggap dewa. Jadi apa saja yang dilakukannya adalah benar, boleh dan sah, seperti perbuatan yang mahakuasa.

Oleh karena itu, ketika di perempat final Piala Dunia 1986 ia membuat gol dengan tangannya ke gawang Inggris yang dijaga Peter Shilton, gol itu pun sah. Malah gol tersebut menjadi sejarah dan terkenal sebagai ”gol tangan tuhan”.

Dan beginilah penyiar Argentina, Victor Hugo Morales, mengomentari gol itu, ”Genius, genius. Ya Tuhan yang kudus, hidup sepak bola! Maradona, dalam aksinya yang terindah sepanjang masa. Naga langit, dari planet mana kamu datang sehingga kamu dapat membuat sekian banyak pemain Inggris diam terlongong-longong? Diegol, Diegol, Diego Maradona. Syukur kepada Tuhan, untuk bola dan untuk Maradona, untuk air mata, untuk Argentina dua dan Inggris nol.”

Tak ada yang salah pada Maradona. Kata Eric Cantona, ”Dalam perjalanan waktu, orang akan berkata, dalam bola, Maradona adalah dia, yang dalam puisi adalah Rimbaud dan dalam musik adalah Mozart.”

Maradona identik dengan kesuksesan. Ia mencoba untuk menghayati kesuksesan itu dengan menjadi Pelatih Argentina. Pada mulanya, rakyat Argentina meragukan kemampuannya. Keraguan itu sirna sebentar karena kemenangan Argentina sebelum perempat final ini. Namun, setelah dilibas Jerman, 4-0, orang pun sadar, Maradona bukanlah dewa yang bisa selalu menang. Dan Maradona pun mewujud kembali menjadi orang biasa, yang bisa gagal dan kalah.

”Argentina mempunyai tangan Tuhan, tetapi Paus Benediktus XVI mengacungkan jempolnya untuk Jerman,” kata George Ratzinger mengomentari kemenangan Jerman kemarin. George Ratzinger adalah seorang imam, saudara dari Joseph Ratzinger, warga negara Jerman yang kini menjadi Paus Benekditus XVI.

Menurut George Ratzinger, Paus tidak memihak siapa pun, tetapi dalam sport, hatinya pasti berdegup untuk tanah airnya. Kekalahan Argentina ternyata bisa menjadi anekdot teologis juga: Siapa yang lebih berkuasa, ”tangan Tuhan” atau ”kuasa Paus”.

Tentu itu hanyalah gurauan. Namun, di balik gurauan itu tersembunyi kenyataan: Akhirnya ”mitos keilahian dewa bola” harus menyerah kalah terhadap ”tangan manusia”. Argentina tersungkur walau dilatih oleh ”dewa bola” karena mereka kalah terhadap Jerman, yang ditangani dengan kerja keras manusia hingga unggul secara taktis, teknis, dan strategis di segala lini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau