Semifinal Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan antara Belanda dan Uruguay, Rabu (7/7), bukan hanya akan menjadi pertarungan gaya Eropa melawan Amerika Selatan, tetapi juga persaingan para pemain kunci kedua tim. Nah, bila tim ”Oranye ” punya Wesley Sneijder, di ”La Celeste” ada Diego Forlan.
Pembandingan antara Sneijder dan Forlan adalah hal wajar. Bukan saja keduanya sama-sama mencetak tiga gol selama di Afsel dan menjadi pencetak gol terbanyak bagi timnya. Lebih dari itu, peran kedua pemain sebagai kreator utama serangan terbukti sangat penting.
Keduanya mencetak gol pada saat-saat krusial bagi timnya. Mereka juga pemberi
Sebenarnya posisi Sneijder dan Forlan berbeda. Pelatih Bert van Marwijk menempatkan gelandang Inter Milan itu sebagai
Tugas Sneijder sebagai gelandang serang sentral menunjang penyerang tunggal Robin van Persie, dalam formasi 4-2-3-1. Selain menunjang Van Persie, Sneijder juga partner ideal buat dua gelandang serang lainnya, yakni Arjen Robben dan Dirk Kuyt. Keempat pemain disebut
Jika Kuyt (kadang diisi Rafael van der Vaart) dan Robben bertugas sebagai perusak formasi bertahan lawan dengan tusukan- tusukan dari sayap dan penyuplai bola, Van Persie berfungsi menarik perhatian pemain belakang. Dan, Sneijder-lah konduktor orkestra serangan itu.
Posisi gelandang serang sentral dalam formasi 4-2-3-1 juga memungkinkan Sneijder bergerak bebas sehingga dapat menghindari kawalan ketat lawan. Dalam posisi menekan, dia kerap muncul tiba-tiba dari belakang setelah tiga penyerang ”Oranye” memberi tekanan ke pertahanan lawan. Dalam keadaan seperti inilah pemain jebolan akademi sepak bola Ajax Amsterdam itu kerap mencetak gol.
Bagi Sneijder, bermain seperti sekarang bukan hal baru. Selama bermain di Inter, Pelatih Jose Mourinho juga menempatkannya sebagai
Sneijder adalah elemen sangat penting dalam sepak bola efektif yang sekarang sedang tren dan dianut oleh Mourinho maupun Marwijk. Dalam skema serangan balik, dia bisa bergerak cepat mencari celah di tengah untuk kemudian mengirimkan umpan terobosan kepada penyerang. Gol Robben ke gawang Slowakia, misalnya, jelas buah kreasi Sneijder lewat serangan balik cepat dan menghunjam. Demikian pula dua gol Diego Milito di final Liga Champions 2010 melawan Bayern Muenchen lalu, juga kreasi serangan balik ala Sneijder.
Penampilan luar biasa Sneijder bersama Inter dan tim Belanda mengejutkan banyak pihak. Padahal, saat bermain di Real Madrid, dia sudah divonis publik kariernya bakal habis. Cedera ligamen berkepanjangan, minim kreasi, dan jarang mencetak gol membuat Sneijder hanya menjadi pemain cadangan di Madrid.
Sama dengan Sneijder, Forlan pun pernah mengalami pahitnya vonis publik atas buruknya penampilan mereka. Saat bermain di Manchester United (2002- 2004), Forlan diolok-olok dengan sebutan ”Diego Forlorn” karena minimnya gol yang dicetak. Namun, saat membela Villarreal dan Atletico Madrid, Forlan membuktikan dirinya sebagai striker papan atas.
Di tim Uruguay, Forlan adalah elemen yang vital. Dia bukanlah
Dalam formasi 3-4-3 atau 4-3-3 yang secara bergantian dipakai Pelatih Uruguay Oscar Tabarez, Forlan diposisikan sebagai penyerang sayap kanan dan menjadi penyuplai bol untuk
Uruguay adalah tim yang mengandalkan serangan balik cepat yang bertumpu pada pergerakan sayap. Dalam bentuk serangan seperti inilah ”La Celeste” lebih sering mengancam pertahanan lawan. Mereka mempunyai sederet pemain berkecepatan tinggi. Dan, Forlan adalah lokomotif utama gerakan cepat serangan ala Uruguay itu.
Tendangan bola-bola mati juga menjadi kelebihan Forlan, sebagaimana Sneijder. Siapa yang bermain lebih baik, ia akan membawa timnya menjadi pemenang besok.