Persaingan Sneijder Vs Forlan

Kompas.com - 06/07/2010, 05:44 WIB

Semifinal Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan antara Belanda dan Uruguay, Rabu (7/7), bukan hanya akan menjadi pertarungan gaya Eropa melawan Amerika Selatan, tetapi juga persaingan para pemain kunci kedua tim. Nah, bila tim ”Oranye ” punya Wesley Sneijder, di ”La Celeste” ada Diego Forlan. 

Pembandingan antara Sneijder dan Forlan adalah hal wajar. Bukan saja keduanya sama-sama mencetak tiga gol selama di Afsel dan menjadi pencetak gol terbanyak bagi timnya. Lebih dari itu, peran kedua pemain sebagai kreator utama serangan terbukti sangat penting.

Keduanya mencetak gol pada saat-saat krusial bagi timnya. Mereka juga pemberi asisst matang bagi rekan-rekannya. Tercatat Sneijder telah membuat tiga asisst untuk ”Oranye”, sama dengan pencapaian Forlan untuk ”La Celeste”.

Sebenarnya posisi Sneijder dan Forlan berbeda. Pelatih Bert van Marwijk menempatkan gelandang Inter Milan itu sebagai play maker, Sementara Forlan lebih sering sebagai second striker atau terkadang sebagai penyerang sayap.

Tugas Sneijder sebagai gelandang serang sentral menunjang penyerang tunggal Robin van Persie, dalam formasi 4-2-3-1. Selain menunjang Van Persie, Sneijder juga partner ideal buat dua gelandang serang lainnya, yakni Arjen Robben dan Dirk Kuyt. Keempat pemain disebut magic four. Tim ”Samba” Brasil telah merasakan saktinya ”kuartet meneer” itu di perdelapan final.

Jika Kuyt (kadang diisi Rafael van der Vaart) dan Robben bertugas sebagai perusak formasi bertahan lawan dengan tusukan- tusukan dari sayap dan penyuplai bola, Van Persie berfungsi menarik perhatian pemain belakang. Dan, Sneijder-lah konduktor orkestra serangan itu.

Posisi gelandang serang sentral dalam formasi 4-2-3-1 juga memungkinkan Sneijder bergerak bebas sehingga dapat menghindari kawalan ketat lawan. Dalam posisi menekan, dia kerap muncul tiba-tiba dari belakang setelah tiga penyerang ”Oranye” memberi tekanan ke pertahanan lawan. Dalam keadaan seperti inilah pemain jebolan akademi sepak bola Ajax Amsterdam itu kerap mencetak gol.

Bagi Sneijder, bermain seperti sekarang bukan hal baru. Selama bermain di Inter, Pelatih Jose Mourinho juga menempatkannya sebagai play maker. Tak heran, Mourinho memercayainya memakai nomor 10, yang biasa dipakai play maker top dunia.

Sneijder adalah elemen sangat penting dalam sepak bola efektif yang sekarang sedang tren dan dianut oleh Mourinho maupun Marwijk. Dalam skema serangan balik, dia bisa bergerak cepat mencari celah di tengah untuk kemudian mengirimkan umpan terobosan kepada penyerang. Gol Robben ke gawang Slowakia, misalnya, jelas buah kreasi Sneijder lewat serangan balik cepat dan menghunjam. Demikian pula dua gol Diego Milito di final Liga Champions 2010 melawan Bayern Muenchen lalu, juga kreasi serangan balik ala Sneijder.

Penampilan luar biasa Sneijder bersama Inter dan tim Belanda mengejutkan banyak pihak. Padahal, saat bermain di Real Madrid, dia sudah divonis publik kariernya bakal habis. Cedera ligamen berkepanjangan, minim kreasi, dan jarang mencetak gol membuat Sneijder hanya menjadi pemain cadangan di Madrid.

Sempat diolok-olok

Sama dengan Sneijder, Forlan pun pernah mengalami pahitnya vonis publik atas buruknya penampilan mereka. Saat bermain di Manchester United (2002- 2004), Forlan diolok-olok dengan sebutan ”Diego Forlorn” karena minimnya gol yang dicetak. Namun, saat membela Villarreal dan Atletico Madrid, Forlan membuktikan dirinya sebagai striker papan atas.

Di tim Uruguay, Forlan adalah elemen yang vital. Dia bukanlah target man. Namun, dengan kecepatan, pengalaman, dan tendangannya, Forlan tetap menjadi pencetak gol terbanyak di ”La Celeste”, dengan 27 gol dari 67 laga yang dilakoninya.

Dalam formasi 3-4-3 atau 4-3-3 yang secara bergantian dipakai Pelatih Uruguay Oscar Tabarez, Forlan diposisikan sebagai penyerang sayap kanan dan menjadi penyuplai bol untuk target man, Luiz Suarez di tengah. Namun, tak jarang tiba-tiba Forlan berada di tengah, di belakang dua penyerang, Suarez dan Cavani, sebagai penyerang lubang maupun play maker serangan. ”Forlan adalah pemain yang selalu tahu seperti apa semestinya sebuah serangan,” kata Tabarez.

Uruguay adalah tim yang mengandalkan serangan balik cepat yang bertumpu pada pergerakan sayap. Dalam bentuk serangan seperti inilah ”La Celeste” lebih sering mengancam pertahanan lawan. Mereka mempunyai sederet pemain berkecepatan tinggi. Dan, Forlan adalah lokomotif utama gerakan cepat serangan ala Uruguay itu.

Tendangan bola-bola mati juga menjadi kelebihan Forlan, sebagaimana Sneijder. Siapa yang bermain lebih baik, ia akan membawa timnya menjadi pemenang besok. (M Burhanudin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau