Piala dunia

Brasil Terpuruk, Dunga Dipecat

Kompas.com - 06/07/2010, 06:29 WIB

SAO PAULO, MINGGU — Kekalahan Brasil pada perempat final Piala Dunia 2010 menuai konsekuensi pemecatan Dunga (46) sebagai pelatih. Secara resmi, Federasi Sepak Bola Brasil atau CBF menyatakan pemecatan Dunga, Minggu (4/7) di Sao Paulo, Brasil.

BF menyebutkan, Dunga dan semua stafnya dibubarkan setelah prahara terlemparnya Brasil di babak perempat final Piala Dunia. Skuad asuhan Dunga ditundukkan Belanda 1-2 di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Jumat (2/7) lalu.

”Dengan penutupan siklus pekerjaan yang dimulai tahun 2006 dan berakhir dengan penghapusan Brasil dari Piala Dunia di Afrika Selatan, CBF mengumumkan pemecatan Komisi Teknis timnas Brasil,” demikian pernyataan CBF.

Setelah pemecatan Dunga, seorang pelatih baru akan diangkat sebelum akhir bulan Juli. Media lokal Brasil menuliskan, mantan pemain Brasil, Mano Menezes, dan Pelatih AC Milan Leonardo diprediksi akan menjadi penerus potensial Dunga.

Dunga memulai kiprahnya sebagai Pelatih Brasil sejak Juli 2006 lalu. Ia menggantikan Carlos Alberto Parreira yang kemudian membidani skuad Afrika Selatan.

Ia mengambil alih peran Parreira setelah Brasil dilibas Perancis 0-1 pada perempat final Piala Dunia 2006 di Jerman.

Pada Piala Dunia 1994 lalu Dunga, yang memiliki nama lengkap Carlos Caetano Bledorn Verri, pernah menjadi kapten timnas Brasil dan unggul sebagai juara. Empat tahun kemudian Brasil lolos sebagai runner-up Piala Dunia 1998.

Meski demikian, pemilihan dirinya sebagai pelatih sempat membuat berbagai pihak terheran-heran. Masalahnya, Dunga sama sekali tidak punya pengalaman sebagai pelatih.

Dalam latihan, Dunga terkenal menekankan kekuatan dan persiapan fisik para pemain. Gaya didikannya sempat dikritik sejumlah pengamat sepak bola.

Pada penyisihan Grup G, Dunga sempat dituduh mencaci-maki para wartawan saat konferensi pers panitia Piala Dunia 2010 setelah Brasil menang atas Pantai Gading, Senin (21/6) di Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan.

Kata-kata Dunga yang kasar dan kotor sempat tertangkap mikrofon pada sesi tanya jawab dengan wartawan setelah pertandingan. Namun, menurut juru bicara FIFA, Pekka Odriozola, Komite Disiplin FIFA menyimpulkan tidak ada alasan kuat membuka kasus tersebut.

Terlepas dari itu semua, fakta menunjukkan, Dunga pernah membawa Brasil menuju Copa Amerika tahun 2007, Piala Konfederasi tahun 2009, dan kualifikasi grup Piala Dunia untuk wilayah Amerika Selatan sebelum akhirnya terkapar oleh Belanda.

Dengan kegagalan Brasil di Piala Dunia 2010, Dunga belum bisa menyamai rekor legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer. Beckenbauer mampu tampil sukses di Piala Dunia, baik sebagai pemain dan kapten Jerman maupun sebagai pelatih.

Siapa pun yang nantinya terpilih sebagai pengganti Dunga, dalam beberapa bulan ke depan sang pelatih baru Brasil beserta stafnya akan menghadapi beberapa pertandingan persahabatan. Paling tidak pertandingan itu untuk penyisihan kejuaraan Piala Amerika, Copa Amerika, tahun 2011 di Argentina.

Dunga beserta tim kembali ke Brasil, Minggu (4/7) pagi. Meski terpuruk sebelum melaju ke babak final Piala Dunia, Dunga dan timnas Brasil tetap disambut para pendukungnya di Porto Alegre, Brasil Selatan.

Hingga saat ini Brasil masih memegang rekor juara Piala Dunia terbanyak, yaitu lima kali. Brasil pernah juara tahun 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Tahun 2014 mendatang Brasil akan menjadi tuan rumah perhelatan Piala Dunia. Sebelumnya Brasil juga pernah menjadi penyelenggara Piala Dunia, tepatnya tahun 1950 lalu.

Scolari lagi?

Luiz Felipe Scolari (62) yang pernah melatih Brasil hingga meraih gelar juara dunia kelima kali tahun 2002 lalu juga sempat disebut-sebut akan kembali melatih. Namun, ia tak bersedia karena tengah berkomitmen dalam dua tahun ke depan dengan klub Brasil, Palmeiras.

”Menyelesaikan karier saya dengan melatih timnas untuk Piala Dunia di Brasil sangat menyenangkan. Namun, saya tak dapat menerima tawaran hingga tahun 2012,” kata Scolari di Radio Brasil, Eldorado, di Afrika Selatan.

Sebelum berlangsung Piala Dunia 2010, Scolari telah menyepakati kontrak dua tahun sebagai Pelatih Palmeiras. Dia baru bisa melatih di Brasil kembali setelah masa kontraknya habis.

”Fokus saya adalah Palmeiras. Setelah kontrak saya berakhir, kita akan melihat apakah ada timnas yang tertarik mengajak saya pada kualifikasi dan Piala Dunia,” kata Scolari.

Pada 1997-2000 Scolari juga pernah melatih Palmeiras. Ia berhasil membawa tim tersebut meraih Piala Brasil tahun 1998 dan Copa Libertadores tahun 1999.

Scolari, putra Brasil ini, sangat dihormati oleh para penggemar sepak bola dan media lokal di Brasil setelah berhasil memimpin timnas mereka juara Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Ia sempat menawarkan pekerjaan lagi untuk melatih pada Piala Dunia 2006, tetapi ditolak karena sudah melatih Portugal. (REUTERS/AP/ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau