Reformasi timnas perancis

Blanc: Kembalikan Kepercayaan "Les Bleus"

Kompas.com - 07/07/2010, 05:31 WIB

Paris, Senin - Gagal total di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, tim nasional Perancis berbenah dengan menunjuk Laurent Blanc menggantikan Pelatih Raymond Domenech. Pemain bintang pada era Piala Dunia 1998 itu ditarget meloloskan ”Les Bleus” ke Euro 2010 Polandia-Ukraina.

Namun, langkah Blanc yang tiga tahun terakhir melatih klub Girondins de Bordeaux di Paris ini tidak akan mudah. Ia mewarisi sederet pemerintahan Domenech yang menimbulkan segudang permasalahan.

Tim nasional Perancis yang tampil memalukan di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 dilanda ketidakpercayaan terhadap pelatih. Di tubuh tim nasional terjadi perselisihan memalukan saat pemain Nicolas Anelka menghina Domenech.

Berbicara dalam konferensi pers pertamanya sebagai Pelatih Perancis, Selasa (6/7) di Paris, Laurent Blanc mengatakan, tugas mendesak yang diembannya adalah menemukan inti permasalahan pada tim nasional. Pasalnya, tim Les Bleus didera ketidaknyamanan selama enam tahun dilatih Domenech. Ujungnya, mereka sempat mogok dalam sesi latihan.

Dampaknya, juara Piala Dunia 1998 ini tersingkir pada babak penyisihan grup di Piala Dunia 2010.

Les Bleus yang mampu mencapai final Piala Dunia 2006 hanya mengantongi nilai satu dari tiga kali bermain di Grup A. Les Bleus kalah dari tuan rumah Afrika Selatan dan Meksiko serta hanya mampu bermain imbang tanpa gol ketika menghadapi Uruguay.

Laurent Blanc dengan tegas menandaskan bahwa dirinya hanya akan membangun kembali tim nasional Perancis dengan memilih para pemain yang dapat dipercaya. ”Hanya pemain dengan mental yang benar dan semangat bermain dalam tim yang akan saya pilih,” ujarnya.

Pelatih Blanc yang ditunjuk Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) pada 2 Juli 2010 ini bakal mengawali tugasnya dalam laga tandang-persahabatan melawan tim nasional Norwegia pada 11 Agustus 2010. Selanjutnya, laga kandang dalam kualifikasi Euro 2012 melawan Belarus pada 3 September 2010.

Pemain sayap Perancis, Florent Johan Malouda, mengatakan, kegagalan timnya dalam Piala Dunia 2010 disebabkan kesalahan sistem. Suasana lingkungan antara pemain dan pelatih tidak cair.

Anggota skuad klub Chelsea ini mengatakan, para pemain tidak menemukan suasana ideal saat bermain untuk Perancis.

”Kesalahan sistem menyebabkan perselisihan. Para pemain yang bermain untuk Chelsea, Barcelona, Bayern Muenchen, atau Olympique Lyon membutuhkan lingkungan dengan level tinggi untuk berkembang,” ujarnya, Sabtu lalu, dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan L’Equipe Magazine.

Pemain berusia 30 tahun ini mengatakan, sangat sulit membandingkan tim nasional dengan tim berkelas macam Chelsea. ”Setiap kali saya dipanggil ke tim nasional, selalu kembali ke cerita negatif,” katanya.

Florent mencontohkan, tidak ada komunikasi antara pelatih dan para pemain saat Pelatih Domenech mengusir Nicolas Anelka karena melontarkan hinaan kepada pelatih. Ini berujung pada aksi boikot para pemain saat sesi latihan.

”Kepada Perancis, saya datang untuk bermain di mana saya diminta dan itu saja” ujar Florent.

(REUTERS/ICH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau