JEPARA, KOMPAS -
”Kampung teknologi merupakan kawasan pengembangan ekonomi daerah di bidang pertanian, industri pengolahan, pariwisata, dan edukasi berbasis teknologi,” kata Bupati Jepara Hendro Martojo, Kamis (8/7), ketika pejabat Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan anggota Komisi VII DPR mengunjungi kampung teknologi tersebut.
Kunjungan itu dalam rangka bakti sosial sekaligus meninjau perkembangan Kampung Teknologi Jepara.
Menurut Hendro, kampung teknologi terdiri dari kawasan agrotechnopark, ecopark, dan technopark.
Kawasan yang saat ini telah terbangun dan berjalan adalah agrotechnopark atau area pengembangan pertanian dan peternakan berbasis teknologi.
Laboratorium ternak
Di bidang peternakan, kawasan tersebut telah menjadi laboratorium pengembangbiakan sapi dengan inseminasi buatan serta pupuk dari kotoran dan air seni kambing. Berikutnya adalah pengembangan biogas berbahan baku kotoran sapi.
”Di bidang pertanian, sedang dicoba pengolahan kacang pascapanen dengan oven sumbangan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pengeringan itu dapat menghasilkan kacang rendah aflatoksin atau jamur penyebab kanker hati,” kata Hendro.
Untuk menunjang kampung teknologi, Hendro menambahkan, Pemkab Jepara akan membangun sekolah menengah kejuruan (SMK). Jurusannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, yaitu perkebunan, pertanian, dan peternakan.
Deputi Bidang Jaringan Ristek Kemenristek Syamsa Andisasmita mengemukakan, kementerian telah mengembangkan kampung teknologi di lima provinsi, Sumatera Selatan, Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Setiap daerah mempunyai karakter pengembangan bidang yang berbeda-beda.
Pada tahun ini, kementerian hanya menganggarkan sekitar Rp 4 miliar yang dibagi rata untuk lima kampung itu. Lantaran anggaran sedikit, pemerintah daerah perlu menggali dana mandiri, baik dari APBD maupun lewat kerja sama dengan pihak ketiga.
Kepala Bidang Sarana Penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sekaligus tenaga ahli peternakan agrotechnopark (ATP) Kemenristek, Syahruddin Said, menambahkan, Kampung Teknologi Jepara belum berkembang optimal. Selain terkendala dana, penyebabnya juga adalah kurangnya sumber daya manusia.
”Tenaga yang masih dibutuhkan adalah dokter hewan dan peneliti bidang pengembangan pangan. Tidak selamanya pemerintah daerah bergantung pada pusat sehingga harus menyediakan tenaga-tenaga itu secara mandiri,” kata Syahruddin. (HEN)