Ekonomi daerah

Investasi Kampung Teknologi Jepara

Kompas.com - 09/07/2010, 04:10 WIB

JEPARA, KOMPAS - Pemerintah Kabupaten Jepara bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi merintis pengembangan kampung teknologi di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Investasi kampung di lahan seluas 110 hektar itu senilai Rp 247,9 miliar.

”Kampung teknologi merupakan kawasan pengembangan ekonomi daerah di bidang pertanian, industri pengolahan, pariwisata, dan edukasi berbasis teknologi,” kata Bupati Jepara Hendro Martojo, Kamis (8/7), ketika pejabat Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan anggota Komisi VII DPR mengunjungi kampung teknologi tersebut.

Kunjungan itu dalam rangka bakti sosial sekaligus meninjau perkembangan Kampung Teknologi Jepara.

Menurut Hendro, kampung teknologi terdiri dari kawasan agrotechnopark, ecopark, dan technopark.

Kawasan yang saat ini telah terbangun dan berjalan adalah agrotechnopark atau area pengembangan pertanian dan peternakan berbasis teknologi.

Laboratorium ternak

Di bidang peternakan, kawasan tersebut telah menjadi laboratorium pengembangbiakan sapi dengan inseminasi buatan serta pupuk dari kotoran dan air seni kambing. Berikutnya adalah pengembangan biogas berbahan baku kotoran sapi.

”Di bidang pertanian, sedang dicoba pengolahan kacang pascapanen dengan oven sumbangan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pengeringan itu dapat menghasilkan kacang rendah aflatoksin atau jamur penyebab kanker hati,” kata Hendro.

Untuk menunjang kampung teknologi, Hendro menambahkan, Pemkab Jepara akan membangun sekolah menengah kejuruan (SMK). Jurusannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, yaitu perkebunan, pertanian, dan peternakan.

Deputi Bidang Jaringan Ristek Kemenristek Syamsa Andisasmita mengemukakan, kementerian telah mengembangkan kampung teknologi di lima provinsi, Sumatera Selatan, Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Setiap daerah mempunyai karakter pengembangan bidang yang berbeda-beda.

Dana mandiri

Pada tahun ini, kementerian hanya menganggarkan sekitar Rp 4 miliar yang dibagi rata untuk lima kampung itu. Lantaran anggaran sedikit, pemerintah daerah perlu menggali dana mandiri, baik dari APBD maupun lewat kerja sama dengan pihak ketiga.

Kepala Bidang Sarana Penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sekaligus tenaga ahli peternakan agrotechnopark (ATP) Kemenristek, Syahruddin Said, menambahkan, Kampung Teknologi Jepara belum berkembang optimal. Selain terkendala dana, penyebabnya juga adalah kurangnya sumber daya manusia.

”Tenaga yang masih dibutuhkan adalah dokter hewan dan peneliti bidang pengembangan pangan. Tidak selamanya pemerintah daerah bergantung pada pusat sehingga harus menyediakan tenaga-tenaga itu secara mandiri,” kata Syahruddin. (HEN)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau