Warga Coba Bunuh Diri Gara-gara Rumahnya Dibongkar

Kompas.com - 15/07/2010, 04:32 WIB

Medan, Kompas - Osiam Nainggolan (37), salah seorang penghuni rumah di Jalan Sei Selayang, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Medan Baru, Medan, mencoba bunuh diri setelah mengetahui rumah orangtuanya hendak dibongkar, Rabu (14/7). Percobaan bunuh diri itu gagal dan juru sita dari Pengadilan Negeri Medan tetap membongkar rumah orangtua Osiam.

Ketika polisi dan petugas juru sita dari Pengadilan Negeri Medan tiba di rumah tersebut sekitar pukul 09.30, Osiam beserta saudaranya, H Nainggolan (42), dan ibunya, Ledika Boru Sitompul (69), sudah bersiap-siap hendak menghalang-halangi petugas. Mereka berupaya mempertahankan rumah yang diklaim peninggalan mendiang suami Ledika.

Namun, petugas terus menjalankan eksekusi. Satu per satu barang yang ada di sekitar dan di dalam rumah diambil.

Merasa upayanya tidak efektif, Osiam lalu mengambil tali dan mengaitkannya di kusen-kusen pintu. Dia mencoba bunuh diri.

”Lebih baik saya mati daripada rumah ini diambil orang,” ujarnya. Untungnya, upaya itu berhasil digagalkan warga dan H Nainggolan.

Tiga penghuni rumah di atas lahan 477,2 meter persegi itu lantas telentang di atas lantai tanpa alas. Sementara para juru sita juga terus mengangkut barang-barang yang ada.

Selang setengah jam kemudian, petugas mendatangkan alat berat berupa backhoe untuk membongkar rumah. Juru sita PN Medan, Hasil Sembiring, menjelaskan, pembongkaran tidak dapat dilakukan jika masih ada orang di dalam rumah. ”Makanya, kami bujuk mereka untuk keluar. Kalau menolak, kami tarik secara paksa,” ujar Hasil.

Para petugas pun semakin agresif memindahi barang-barang dari dalam rumah. Beberapa polisi perempuan membantu petugas membujuk Ledika dan kedua anaknya itu. Namun, Ledika malah lari ke belakang rumah untuk mempertahankan tempat tinggalnya itu. Polisi akhirnya membawanya keluar rumah.

”Tidak ada lagi Tuhan di negeri ini. Tidak ada lagi Tuhan di pengadilan, yang ada hanya uang, uang, dan uang. Kami yang miskin menjadi sengsara karena rumah kami dibongkar,” kata Ledika ketika digiring polisi.

Ledika hanya membawa baju yang menempel di badan. Dia terus menangis dan menyampaikan suara hatinya betapa di negeri ini tidak ada lagi pembela rakyat miskin seperti dia. Rakyat miskin selalu kalah oleh orang yang punya banyak uang.

Sementara itu, Osiam keluar rumah dengan membawa beberapa dokumen penting dan tas berisi pakaian. ”Kami tidak tahu nanti tidur di mana. Selamat tinggal rumahku,” ujarnya lirih.

Tangisan Ledika dan Osiam, serta bunyi alat berat itu mengundang kerumunan warga. Ratusan warga memenuhi Jalan Sei Selayang untuk menyaksikan eksekusi dan pembongkaran rumah tersebut dari dekat. Beberapa polisi terpaksa meminta mereka menjauh.

Hanya dalam tempo 20 menit, rumah berdinding tembok dan beratap seng itu rata menjadi tanah. Ledika dan Osiam yang tidak kuasa menahan kesedihan lalu menangis. ”Tuhan, beginikah kau siksa kami? Kasus ini masih proses PK (peninjauan kembali), mengapa dibongkar?” teriak Osiam sambil menangis.

Cobaan

Warga mencoba menenangkan mereka berdua. ”Sudahlah, jangan menangis terus. Ibu bisa tinggal di rumah saya. Ini cobaan dari Tuhan,” kata seorang warga sambil memberi sebotol air mineral kepada Ledika.

Lahan itu menjadi sengketa antara Porman boru Hombing sebagai penggugat dan Ledika sebagai tergugat. Porman mengatakan, Ledika bisa menempati rumah itu atas izin suaminya. Sementara Ledika mengaku bahwa rumah itu sudah mereka miliki sejak tahun 1965.

PN Medan, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, dan Mahkamah Agung mengabulkan gugatan Porman. PN Medan kemudian mengeluarkan surat perintah eksekusi pada Rabu (14/7). (MHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau