Rekening gendut

Bentuk Tim Independen Rekening Gendut

Kompas.com - 17/07/2010, 18:18 WIB

PURWOKERTO, KOMPAS.com- Pengamat politik dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, Prof Rubijanto Misman memandang perlu dibentuknya tim independen terkait dengan "rekening gendut" perwira Polri.

"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus secepatnya mengambil langkah-langkah terkait dengan ’rekening gendut’ tersebut, misalnya, membentuk tim independen seperti ketika menyelesaikan kasus Bibit-Candra dengan pembentukan Tim Delapan," katanya kepada wartawan di Purwokerto, Sabtu (16/7/2010).

Menurut dia, pembentukan tim independen ini sebagai antisipasi agar kasus "rekening gendut" tersebut tidak semakin berkembang sebagai isu yang tak sedap. Dalam hal ini, kata dia, tim independen harus bersih dari segala kepentingan, termasuk kepentingan Polri.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa kunci utama penyelesaian permasalahan tersebut berada di tangan Kepala Polri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. "Saya melihat isu ’rekening gendut’ ini justru semakin membuat citra Polri dan bangsa Indonesia tidak sedap. Bahkan, isu ini seakan untuk menutupi kasus besar lainnya sehingga tidak ada penyelesaian yang pasti," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau