Demokrasi di afrika

16 Tahun Jadi Presiden Rwanda, Maju Lagi

Kompas.com - 21/07/2010, 03:12 WIB

KIGALI, KOMPAS.com - Presiden Rwanda Paul Kagame merasa bakal menang lagi dalam Pemilu 9 Agustus sekaligus menjamin pesta demokrasi itu akan berlangsung jujur.

Keyakinan dan komitmennya itu disampaikan Kagame, Selasa (20/7/2010) saat memulai kampanye Pemilu yang sudah diwarnai beberapa insiden pembunuhan dan penangkapan bernuansa politis.

Presiden berusia 52 tahun ini memimpin Rwanda sejak Front Patriotik Rwanda (RPF) yang dipimpinnya berhasil menghentikan genosida ekstrimis suku mayoritas Hutu atas kelompok minoritas Tutsi pada 1994. Periden Kagame menekankan bahwa "negara bebas memilih".

"Warga Rwanda yang memiliki hak pilih bebas menentukan pilihannya. Tapi kami harus mendapatkan dukungan dan menjelaskan bagaimana kami wajar didukung," katanya di Kigali pada hari pertama kampanye yang direncanakan berlangsung tiga minggu itu.

Namun dengan kegagalan partai-partai oposisi utama ikut Pemilu, keikutsertaan beberapa orang, termasuk Kagame sendiri, mengundang tanya sejumlah pihak tentang hasil pemilihan rakyat.

"Saya yakin rakyat Rwanda akan memilih bekerja sama dengan RPF tapi saya tidak menganggap itu hal biasa," katanya.

Sekitar 30.000 orang membanjiri Stadion Nasional Kigali Hari Selasa untuk mendukung presiden berkuasa Kagame. Mereka meneriakkan yel-yel "pilih Kagame, sahabat kaum muda" atau "memilih RPF berarti memilih persatuan, demokrasi dan pembangunan."

RPF diperkirakan menggelontorkan dana 2 juta dolar AS untuk mendukung kampanye. Koordinator kampanye kubu Kagame, Christophe Bazivamo, mengatakan, dana itu dikumpulkan dari "sumbangan suka rela".

Pada Pemilu Agustus mendatang itu, Kagame ditantang tiga kandidat lainnya, yakni Wakil Ketua Parlemen Jean-Damascene Ntawukuriryayo (Partai Demokratik Sosial), Prosper Higiro (Partai Liberal) dan Alvera Mukabaramba (Partai Kemajuan dan Perdamaian).

Dalam perkembangan lain, beberapa aksi kekerasan politik mulai terjadi. Pada 14 Juli lalu, Wakil Ketua Partai Hijau Demokratik, Andre Kagwa Rwisereka ditemukan tewas. "Dia mengasosiakan dirinya dengan orang-orang yang melakukan genosida," kata Kagame.

Beberapa perwira senior angkatan darat Rwanda sudah ditangkap dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan seorang jenderal bernama Faustin Kayumba Nyamwasa nyaris menjadi korban pembunuhan di tempat pengasingannya di Afrika Selatan.

Seorang wartawan yang mengungkap kemungkinan keterlibatan pemerintah dalam percobaan pembunuhan itu ditembak mati beberapa hari kemudian. Presiden Kagame membantah kasus-kasus pembunuhan itu tidak bermotif politis.

"Tak ada manfaatnya, mengapa pula pemerintah bertindak bodoh? Saya rasa ada sesuatu yang sangat keliru. Masyarakat kemudian menyimpulkan tanpa ada bukti," katanya.

Kematian wartawan dan Wakil Ketua Partai Hijau Demokratik, Andre Kagwa Rwisereka, membuat Sekjen PBB Ban Ki-moon prihatin. Orang nomor satu PBB ini meminta penyelidikan penuh terhadap dua kasus pembunuhan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau