KOMPAS.com - INI kisah tentang hubungan antarmanusia beda jenis. Ini kisah tentang janda cantik yang mendadak susah, karena diduga menolak cinta.
Dialah janda muda nan cantik asal Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Lilik Farida (28). Farida, yang setiap hari membuka warung kopi di depan rumah, yang bernasib malang lantaran dibakar oleh seorang pria yang sempat menikmati kopi di warungnya, Minggu (18/7) malam.
Akibatnya, Farida mengalami luka bakar hebat, mulai pinggul sampai ke atas melepuh. Sampai Selasa (20/7), dia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, sedangkan identitas pelaku belum diketahui.
Motif kasus ini belum diketahui pasti, sebagaimana diutarakan Pjs Kapolsek Wajak, Iptu Sardikan, Selasa (20/7). Namun, di kepolisian menduga pelaku pembakaran tersebut sakit hati dan dendam akibat cintanya ditolak Farida.
“Kami masih menyelidiki kasus ini, karena identitas pelaku belum kami ketahui. Sebab, dalam kejadian itu tak ada saksi lain, kecuali korban sendiri. Karena itu, untuk mengetahui identitas pelaku kami menunggu keterangan korban yang merupakan saksi kunci,” kata Iptu Sardikan.
Polisi sudah memeriksa tiga saksi, yakni ayah-ibu korban, Sauri (80) dan Siti Fatimah (70) serta tetangga bernama Kemin (35) Namun, mereka mengaku tak mengetahui sang pelaku, dan hanya menolong Farida ketika tubuhnya terbakar. Api yang membakar baju dan tubuh korban itu padam setelah diguyur air.
“Mereka tahu (kejadian tersebut) setelah korban terbakar tubuhnya. Sedang pelaku saat itu sudah kabur,” tutur Iptu Sardikan.
Farida baru setahun bercerai dengan suami. Untuk menopang hidupnya, janda beranak satu ini membuka warung kopi di depan rumah sejak empat bulan lalu. Meski warung kopi tersebut dibangun secara sederhana —terbuat dari gedhek— namun setiap hari ramai pengunjung.
Bahkan saking larisnya, warung kopi itu baru tutup tengah malam. Para pembeli seolah tak mau beranjak jika sudah duduk sambil menyeruput kopi buatan Farida. Entah karena mereka senang dengan rasa kopinya yang enak, atau untuk sekadar melihat Farida, yang dikenal sebagai janda kembang dan cantik.
“Setiap malam memang selalu ramai. Warung itu baru buka empat bulan lalu setelah bercerai setahun lalu dengan suaminya,” tutur Joko Sugiarto, Kepala Desa Codo, Selasa (20/7).
Joko tidak tahu penyebab kejadian yang menggegerkan tersebut. Ia dan warga lain baru tahu setelah tersiar kabar bahwa Farida disiram bensin, kemudian tubuhnya dibakar pria yang datang ke warungnya.
Adapun Iptu Sardikan menjelaskan, insiden itu diperkirakan terjadi Minggu (18/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu warung Farida sebenarnya sudah tutup. Namun, karena masih ada dua pria minum kopi, Farida seraya mengemasi barang-barang menunggu mereka pergi.
Tak seperti pelanggan lain, dua pria itu tak minum kopi di dalam warung melainkan di belakang warung, yaitu di teras rumah Farida. Wajah mereka tak bisa dikenali dengan jelas karena lampu di teras itu remang-remang.
Salah satu dari dua pria tersebut kemudian menyiramkan bensin ke tubuh Farida. Semula, bensin itu dibungkus plastik, dan disembunyikan dalam jaket. Begitu bensin membasahi tubuh Farida, pria itu menyalakan korek, dan dilemparkan ke tubuh Farida. Di saat api berkobar, dan Farida berteriak-teriak meminta tolong, kedua pria tersebut langsung kabur naik sepeda motor. Adapun Farida ditolong orangtua dan tetangga.
Informasi yang diperoleh wartawan Surya, dua pria kriminal itu datang ke warung Farida dengan berboncengan sepeda motor. Selain identitas kedua pria itu belum diketahui, demikian pula identitas sepeda motornya. Polisi menduga kedua pemuda tersebut berasal dari desa lain.
Kabar yang beredar, mereka biasa datang menjelang tengah malam, sewaktu warung sepi pembeli, dan akan tutup. Satu dari kedua pria itu sudah lama menaruh hati ke Farida, namun tak ditanggapi. Meski demikian, dia tetap ngotot. Mungkin karena kesal cintanya ditolak Farida, pria tersebut akhirnya nekat membakar Farida. (fiq)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang