Diduga karena Cinta, Janda ini Celaka

Kompas.com - 21/07/2010, 08:23 WIB

KOMPAS.com - INI kisah tentang hubungan antarmanusia beda jenis. Ini kisah tentang janda cantik yang mendadak susah, karena diduga menolak cinta.

Dialah janda muda nan cantik asal Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Lilik Farida (28). Farida, yang setiap hari membuka warung kopi di depan rumah, yang bernasib malang lantaran dibakar oleh seorang pria yang sempat menikmati kopi di warungnya, Minggu (18/7) malam.

Akibatnya, Farida mengalami luka bakar hebat, mulai pinggul sampai ke atas melepuh. Sampai Selasa (20/7), dia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, sedangkan identitas pelaku belum diketahui.

Motif kasus ini belum diketahui pasti, sebagaimana diutarakan Pjs Kapolsek Wajak, Iptu Sardikan, Selasa (20/7). Namun, di kepolisian menduga pelaku pembakaran tersebut sakit hati dan dendam akibat cintanya ditolak Farida.

“Kami masih menyelidiki kasus ini, karena identitas pelaku belum kami ketahui. Sebab, dalam kejadian itu tak ada saksi lain, kecuali korban sendiri. Karena itu, untuk mengetahui identitas pelaku kami menunggu keterangan korban yang merupakan saksi kunci,” kata Iptu Sardikan.

Polisi sudah memeriksa tiga saksi, yakni ayah-ibu korban, Sauri (80) dan Siti Fatimah (70) serta tetangga bernama Kemin (35) Namun, mereka mengaku tak mengetahui sang pelaku, dan hanya menolong Farida ketika tubuhnya terbakar. Api yang membakar baju dan tubuh korban itu padam setelah diguyur air.

“Mereka tahu (kejadian tersebut) setelah korban terbakar tubuhnya. Sedang pelaku saat itu sudah kabur,” tutur Iptu Sardikan.

Farida baru setahun bercerai dengan suami. Untuk menopang hidupnya, janda beranak satu ini membuka warung kopi di depan rumah sejak empat bulan lalu. Meski warung kopi tersebut dibangun secara sederhana —terbuat dari gedhek— namun setiap hari ramai pengunjung.

Bahkan saking larisnya, warung kopi itu baru tutup tengah malam. Para pembeli seolah tak mau beranjak jika sudah duduk sambil menyeruput kopi buatan Farida. Entah karena mereka senang dengan rasa kopinya yang enak, atau untuk sekadar melihat Farida, yang dikenal sebagai janda kembang dan cantik.

“Setiap malam memang selalu ramai. Warung itu baru buka empat bulan lalu setelah bercerai setahun lalu dengan suaminya,” tutur Joko Sugiarto, Kepala Desa Codo, Selasa (20/7).

Joko tidak tahu penyebab kejadian yang menggegerkan tersebut. Ia dan warga lain baru tahu setelah tersiar kabar bahwa Farida disiram bensin, kemudian tubuhnya dibakar pria yang datang ke warungnya.

Adapun Iptu Sardikan menjelaskan, insiden itu diperkirakan terjadi Minggu (18/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu warung Farida sebenarnya sudah tutup. Namun, karena masih ada dua pria minum kopi, Farida seraya mengemasi barang-barang menunggu mereka pergi.

Tak seperti pelanggan lain, dua pria itu tak minum kopi di dalam warung melainkan di belakang warung, yaitu di teras rumah Farida. Wajah mereka tak bisa dikenali dengan jelas karena lampu di teras itu remang-remang.

Salah satu dari dua pria tersebut kemudian menyiramkan bensin ke tubuh Farida. Semula, bensin itu dibungkus plastik, dan disembunyikan dalam jaket. Begitu bensin membasahi tubuh Farida, pria itu menyalakan korek, dan dilemparkan ke tubuh Farida. Di saat api berkobar, dan Farida berteriak-teriak meminta tolong, kedua pria tersebut langsung kabur naik sepeda motor. Adapun Farida ditolong orangtua dan tetangga.

Informasi yang diperoleh wartawan Surya, dua pria kriminal itu datang ke warung Farida dengan berboncengan sepeda motor. Selain identitas kedua pria itu belum diketahui, demikian pula identitas sepeda motornya. Polisi menduga kedua pemuda tersebut berasal dari desa lain.

Kabar yang beredar, mereka biasa datang menjelang tengah malam, sewaktu warung sepi pembeli, dan akan tutup. Satu dari kedua pria itu sudah lama menaruh hati ke Farida, namun tak ditanggapi. Meski demikian, dia tetap ngotot. Mungkin karena kesal cintanya ditolak Farida, pria tersebut akhirnya nekat membakar Farida. (fiq)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau