Kasus ledakan tabung gas yang merebak di Indonesia menjadi alasan kuat bagi sebagian warga Jakarta kembali mencari minyak tanah. Kompor sumbu berbahan bakar minyak tanah yang sempat teronggok ditinggalkan pun mulai dipakai lagi.
”Ini masalah nyawa. Sebenarnya tabung dan kompor gas saya belum pernah bermasalah, tapi buat jaga-jaga, kompor minyak tanah disiapkan lagi,” kata Rohimah yang ditemui di pom bensin Jalan Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (21/7).
Rencana beralih dari gas ke minyak tanah juga disampaikan Nina (30). Warga Cengkareng, Jakarta Barat, ini mengaku sangat cemas dengan adanya kasus ledakan gas yang terjadi berulang kali.
”Kalau isi tabung gas tiga kilogram di rumah saya sudah habis, saya bakal kembali menggunakan minyak tanah,” kata Nina saat dijumpai di tempat kerjanya di kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat.
Sebuah kompor minyak masih tersimpan di gudang rumah sejak keluarga ini menerima seperangkat alat gas program konversi pemerintah tahun 2007. Nina mengaku mengganti kompor gas, selang, dan regulator yang diterimanya dari pertamina karena alat-alat itu dianggap kurang aman.
Setelah itu, dia merasa aman menggunakan kompor gas. Belakangan ini, hatinya risau karena berita ledakan gas bersahut-sahutan. Dia sendiri pernah mencium bau gas bocor dari tabung gas tiga kilogram yang baru dipasangnya. Beruntung, Nina masih bisa mematikan kompor sebelum terjadi ledakan. Tabung gas tiga kilogram yang baru ditukarnya itu segera dikembalikan ke warung tempatnya membeli.
Sejak itu, dia menganggap pemakaian kompor gas itu tidak aman lagi. ”Kalau gas bocor dan terjadi ledakan, susah memadamkannya. Tapi kalau kompor minyak tanah kan tinggal ditutup karung basah. Lebih aman,” kata Nina.
Dia mengaku rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli minyak tanah yang kini harganya mencapai Rp 8.000 per liter. Dalam seminggu, Nina yang mengaku tidak terlalu sering memasak ini menghabiskan seliter minyak tanah.
Bila memakai gas, dia
Rencana meninggalkan gas sebagai bahan bakar untuk memasak juga disampaikan oleh Susi Hariyani. Ibu dari Rido Januar (4,5) ini berencana memakai kayu bakar untuk memasak.
”Sejak kejadian ini, saya tidak mau lagi pakai kompor gas. Trauma. Lebih baik cari kayu bakar untuk memasak,” kata Susi.
Rido adalah salah satu korban ledakan gas. Bocah asal Bojonegoro, Jawa Timur, ini mengalami luka bakar 25 persen akibat terbakar api yang menyambar gas. Saat ini Rido masih dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Susi mendapatkan tabung gas tiga kilogram dari pinjaman tetangganya karena dia baru kembali ke kampungnya setelah program konversi. Sehari-hari, gas dijadikan bahan bakar untuk memasak.
Tidak pernah Susi merasakan sesuatu yang mencurigakan hingga ledakan gas yang terjadi di rumah kontrakannya, 27 Maret lalu. Ketika itu, Susi baru mulai memasak.
Masyarakat memang punya langkah untuk berkelit dari ancaman hidupnya. Namun, apakah kejadian ledakan gas—yang notabene merupakan imbas dari kebijakan pemerintah—lantas dibiarkan begitu saja? Apalagi, masih ada jutaan pengguna gas, di tengah ledakan gas yang bersahut-sahutan.
Namun, mencari bahan bakar selain gas untuk memasak tak semudah yang dibayangkan. Kebijakan konversi bahan bakar yang telah berlangsung sekitar tiga tahun ini menempatkan gas sebagai komoditas massal. Gas dalam kemasan tabung tiga kilogram jamak ditemukan di pelosok kampung. Sementara minyak tanah, apalagi kayu bakar, di Jakarta ini amat terbatas jumlahnya.
Rohimah mengaku harus berputar-putar ke beberapa pom bensin dan mendatangi sejumlah warung di Jakarta Selatan, sebelum akhirnya menemukan minyak tanah. Itu pun, Rohimah harus mengeluarkan uang Rp 50.000 atau lebih mahal
”Dihitung-hitung mahal sekali pakai minyak tanah. Apalagi istri saya bisa menghabiskan satu liter per hari untuk di dapur saja. Belum untuk usaha saya,” kata bapak tiga anak pemilik kios bakso di Ragunan.
Keluhan senada diungkapkan Dini, ibu rumah tangga yang juga pegawai toko di ITC Fatmawati. ”Saya sebenarnya seneng pakai gas. Saya tidak akan mampu beli minyak tanah lagi sekarang. Gas inilah untuk masak sehari-hari. Saya minta gas tiga kilogram dijamin keamanannya kembali,” kata Dini.
Ketakutan yang menghantui warga saat ini menciptakan dilema tersendiri. Aman tetapi mahal dengan pakai minyak tanah atau diteror ketakutan tetapi terhitung murah dengan memakai gas. Apalagi, di tengah harga bahan pangan yang terus bergejolak menjelang bulan puasa, warga pun makin bingung.
Namun, sepertinya lagi-lagi rakyat harus berjibaku sendiri mencari selamat. Tidak ada yang berani menjamin tabung gas dan peralatannya steril dari kecacatan pemicu ledakan. Padahal saat konversi energi dimulai, dalam program sosialisasinya, pemerintah berani menjamin keamanan dan betapa ekonomisnya penggunaan gas.
Jadi, masih bisakah rakyat percaya kepada pemerintah?