Yusril Yusuf dan Penelitian tentang Otot

Kompas.com - 26/07/2010, 03:36 WIB

 Irene Sarwindaningrum

Peneliti Yusril Yusuf menolak terperangkap keterbatasan. Di tengah minimnya sarana penelitian di Indonesia, dosen Fisika Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu tidak putus berusaha mengembangkan penelitiannya. Berkat keuletannya tersebut, Yusril terpilih sebagai satu-satunya wakil Indonesia dalam pertemuan ilmiah internasional Lindau Nobel Laureta ke-60 di Lindau, Jerman, 27 Juni–2 Juli lalu.

Selama ini, di sebuah laboratorium kecil dengan atap bertambal plastik karena bocor, Yusril menekuni penelitiannya. Laboratorium Fisika Materi Fakultas Matematika dan IPA UGM yang didirikannya pada 2007 itu menjadi saksi keuletan lelaki kelahiran Pekanbaru, Riau, ini.

”Saya membangunnya dari nol, sekarang sudah menghasilkan seorang sarjana dan 12 master dari para mahasiswa yang meneliti di sini,” kata Yusril di laboratorium kecil itu di Yogyakarta.

Tidak banyak yang bisa dilihat di laboratorium tersebut, selain meja laboratorium dengan dua mikroskop. Satu mikroskop adalah hadiah dari dosen pembimbingnya di Jepang.

Terdapat pula dua perangkat komputer dan sejumlah perangkat penelitian. Di salah satu pojok ruangan ada lemari penyimpan Liquid Crystal Elastomers (LCEs) yang didapat cuma-cuma dari penemunya sendiri, profesor asal Jerman.

Dengan semua ini, Yusril mengembangkan penelitian mengenai otot berbahan LCEs untuk membuat otot buatan semirip mungkin dengan otot asli. Bahannya lentur dan kenyal mirip otot manusia serta mampu berkontraksi saat dialiri tegangan listrik.

Penelitian yang relatif baru dan belum banyak digeluti di Indonesia ini membuka celah terciptanya organ tubuh buatan yang lebih manusiawi dan mirip aslinya. Penelitian juga berpotensi dikembangkan menjadi robot elastis yang dapat digunakan untuk mencari korban di reruntuhan akibat gempa.

”Selama ini orang selalu kesulitan mencari korban gempa di bawah reruntuhan. Dengan robot yang lentur dan fleksibel, pencarian korban bisa jauh lebih mudah dan cepat sehingga jatuhnya korban jiwa bisa dicegah,” ujarnya.

Empat negara

Yusril mengatakan, penelitian yang dia lakukan merupakan penelitian lintas negara. Lima peneliti dari empat negara terlibat di sini, yaitu Jepang, Jerman, Amerika Serikat, dan Indonesia. Penelitian total di Indonesia sendiri tak memungkinkan karena adanya keterbatasan sarana dan ahli.

”Kami berlima masih terus melakukan eksperimen di tempat masing-masing. Apa yang tidak bisa dilakukan di sini, ya, dilakukan di Jepang, misalnya. Atau sebaliknya, data eksperimen yang kami lakukan di sini juga bisa dipakai peneliti di Jepang atau di Jerman. Tetapi, sering kali hasil penelitian di sini tidak bisa menghasilkan pengembangan baru karena alat yang tersedia sangat terbatas,” kata Yusril.

Bidang penelitian tersebut menumbuhkan minat keilmuan Yusril selama kuliah di Kyushu, Jepang, pada 2000-2008. Pada 2006 di Colorado, Amerika Serikat, bapak tiga putri itu meraih penghargaan Glenn H Brown Prize dari International Liquid Crystal Society (ILCS) atas penelitian yang dilakukannya.

Yusril tercatat sebagai peneliti pertama asal Indonesia yang berhasil meraih penghargaan tersebut. Penghargaan Glenn H Brown Prize telah diberikan kepada 32 peneliti yang sebagian besar berasal dari Eropa, Amerika, dan Jepang.

Pulang ke Indonesia, Yusril, dengan dukungan universitas dan fakultasnya, langsung mendirikan laboratorium fisika materi. Alat-alatnya sebagian pemberian dari kolega dan rekannya di luar negeri. Dia juga membimbing para mahasiswa yang tertarik dalam bidang penelitian tersebut.

Penelitian itu pula yang mengantar Yusril bertemu dengan 61 pemenang nobel dan 650 peneliti muda bidang fisika, kimia, dan fisiologis medis sedunia di Lindau, Jerman.

Dalam pertemuan tersebut, Yusril berharap dapat menemukan ilmuwan-ilmuwan lain yang dapat dia ajak berdiskusi untuk mengembangkan penelitiannya. Di Indonesia, Yusril kesulitan menemukan rekan diskusi karena masih terbatasnya peneliti di bidang ini.

Keberangkatan Yusril ke Lindau bisa dikatakan sebagai sebuah prestasi karena dia terpilih dari belasan peneliti muda dari sejumlah negara lain. Dari 10 orang yang terpilih dilingkup ASEAN, Yusril memperoleh poin tertinggi dan menjadi guest editor dalam pertemuan tahunan tersebut.

Lebih dari itu, keberangkatannya ke Lindau, Jerman, merupakan pintu untuk mengangkat dunia penelitian Indonesia di tingkat internasional. Hal ini diharapkannya dapat membuka keran kerja sama internasional yang akan memajukan penelitian di Indonesia.

Tradisi keluarga

Ketekunan Yusril pada bidang penelitian dan mengajar bisa ditelusuri dari tradisi keluarga yang mengutamakan keilmuan. Ayahnya adalah seorang guru yang kemudian bekerja pada dinas pendidikan. Sang ayah berharap, kesembilan anaknya mau melanjutkan tradisi keilmuan itu dengan menjadi guru atau dosen.

”Dan, ternyata (harapan sang ayah) berhasil, saat ini keluarga saya terdiri dari dosen, guru, dan ada satu orang yang bekerja di bidang medis,” kata Yusril, sang bungsu.

Semangat keilmuan telah tecermin dalam keluarga besar itu sejak Yusril masih kecil. Meski hidup dalam kesederhanaan, keluarga tersebut selalu memprioritaskan kebutuhan sekolah dan pendidikan.

Yusril mendalami bidang fisika karena sejak SMA telah berminat pada berbagai gejala tak lazim di alam, seperti gelombang soliton atau gelombang di permukaan air yang konstan dan tidak berhenti.

Semula Yusril mengaku lebih banyak berkutat dengan pengembangan teori. Namun, hasrat keilmuwanannya tergoda lebih jauh untuk merasakan secara nyata teori-teori dalam fisika.

”Saya ini pelarian, dari orang teoretis menjadi eksperimen,” katanya menambahkan.

Nyatanya, hasrat penelitian Yusril tersebut tidak hanya membawa dia menjadi seorang pelarian. Yusril telah membawa nama Indonesia ke kancah penelitian internasional dan berharap bisa berlari lebih kencang untuk penelitiannya.

Dr Yusril Yusuf, M Eng, D Eng 

• Lahir: Pekanbaru, Riau, 20 September 1971 

• Istri: Khusnul Solikhah 

• Anak: 
- Aulia (11) 
- Tsaniya (8) 
- Agisya (5) 

• Pendidikan: 
- SD Teladan Pekanbaru 
- SMP Negeri 4 Pekanbaru 
- SMA Muhammadiyah Dua Yogyakarta 
- Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 
- Master di Fakultas Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung 
- Dua kali mengambil Master di Applied Physics, Engineering, Kyushu University, Jepang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau