WASHINGTON, KOMPAS.com - Pakistan memperdaya AS dengan diam-diam mendukung Taliban sementara mengambil untung dari bantuan besar negara adidaya itu, kata surat kabar The New York Times, Minggu, mengutip dokumen-dokumen yang dibocorkan kelompok WikiLeaks.
Gedung Putih menanggapi dengan kecaman keras pembocoran itu, dan mengatakan tindakan itu dapat mengancam keamanan nasional dan membahayakan nyawa warga AS dan sekutu-sekutunya.
"Pembocoran yang tidak bertanggungjawab ini tidak akan berdampak pada komitmen kami untuk memperkokoh kemitraan kami dengan Afghanistan dan Pakistan," kata Penasehat Keamanan Nasional Presiden Barack Obama, Jim Jones.
Obama akan mengirim lagi ribuan tentara ke Afghanistan untuk menggempur gerilyawan Taliban, kendatipun terjadi kegelisahan di dalam negeri akan korban militer yang meningkat dan perdebatan dalam pemerintahnya sendiri tentang cara yang terbaik untuk menangani perang sembilan tahun itu.
Surat kabar itu melaporkan 91.000 dokumen, yang dikumpulkan dari seluruh militer AS di Afghanistan, menunjukkan Pakistan secara aktif bekerjasama dengan kelompok Taliban.
"Dokumen itu mengemukakan Pakistan berpura-pura menjadi sekutu AS, mengizinkan wakil dinas inteljennya bertemu langsung Taliban dalam sidang strategis rahasia untuk mengatur jaringan kelompok garis keras yang memerangi pasukan AS di Afghanistan dan bahkan bersekongkol membuat rencana membunuh para pemimpin Afghanistan," kata surat kabar itu.
Dokumen itu juga dimiliki surat kabar Inggris The Guardian dan mingguan Jerman Der Spiegel.
Satu ringkasan dokumen-dokumen itu diperoleh di jaringan internet http://www.wikileaks. org/wiki/Afghan War dan satu webpage di mana WikiLeaks mengatakan dokumen-dokumen itu disiarkan Senin (26/7/2010).
Jones mengatakan dokumen itu mengungkapkan satu periode dari Januari 2004 sampai Desember 2009, ketika Obama meluncurkan strategi baru Afghanistan.
"Presiden Obama mengumumkan satu strategi baru menambah pasukan untuk Afghanistan dan meningkatkan pusat serangan pada tempat-tempat persembunyian Al Qaida dan Taliban di Pakistan," kata Jones.
"Kita tahu, tantangan berat menanti di depan, tetapi jika Afghanistan kacau, kita kembali akan menghadapi ancaman dari kelompok garis keras seperti Al Qaida yang akan memiliki ruang untuk membuat rencana dan pelatihan," katanya.
WikiLeaks melakukan pembocoran informasi itu untuk mengecam pemerintah dan korupsi. Awal tahun ini WikiLeaks membocorkan satu video rahasia, yang menunjukkan serangan helikopter tahun 2007, yang menewaskan 12 orang di Irak, termasuk wartawan Reuters.
Dubes Pakistan untuk AS, Hussain Haqqani mengatakan membocorkan laporan tanpa proses menyangkut medan tempur adalah satu tindakan yang tidak bertanggungjawab.
"Laporan itu tidak mencerminkan apapun selain komentar dan rumor yang berkembang di kedua sisi perbatasan Pakistan-Afghanistan dan sering keliru," katanya.
Ada pernyataan lain mengenai campur tangan Pakistan di Afghanistan. Awal bulan ini London School of Economic menyiarkan laporan yang menyatakan, dukungan bagi Taliban adalah satu kebijakan resmi badan Intelijen Pakistan ISI (Inter-Services Itelligence).
Namun, pemerintah Pakistan membantah keras pernyataan itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang