Pakistan ngibuli as

Pakistan Diam-diam Mendukung Taliban

Kompas.com - 26/07/2010, 14:19 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pakistan memperdaya AS dengan diam-diam mendukung Taliban sementara mengambil untung dari bantuan besar negara adidaya itu, kata surat kabar The New York Times, Minggu, mengutip dokumen-dokumen yang dibocorkan kelompok WikiLeaks.

Gedung Putih menanggapi dengan kecaman keras pembocoran itu, dan mengatakan tindakan itu dapat mengancam keamanan nasional dan membahayakan nyawa warga AS dan sekutu-sekutunya.

"Pembocoran yang tidak bertanggungjawab ini tidak akan berdampak pada komitmen kami untuk memperkokoh kemitraan kami dengan Afghanistan dan Pakistan," kata Penasehat Keamanan Nasional Presiden Barack Obama, Jim Jones.

Obama akan mengirim lagi ribuan tentara ke Afghanistan untuk menggempur gerilyawan Taliban, kendatipun terjadi kegelisahan di dalam negeri akan korban militer yang meningkat dan perdebatan dalam pemerintahnya sendiri tentang cara yang terbaik untuk menangani perang sembilan tahun itu.

Surat kabar itu melaporkan 91.000 dokumen, yang dikumpulkan dari seluruh militer AS di Afghanistan, menunjukkan Pakistan secara aktif bekerjasama dengan kelompok Taliban.

"Dokumen itu mengemukakan Pakistan berpura-pura menjadi sekutu AS, mengizinkan wakil dinas inteljennya bertemu langsung Taliban dalam sidang strategis rahasia untuk mengatur jaringan kelompok garis keras yang memerangi pasukan AS di Afghanistan dan bahkan bersekongkol membuat rencana membunuh para pemimpin Afghanistan," kata surat kabar itu.

Dokumen itu juga dimiliki surat kabar Inggris The Guardian dan mingguan Jerman Der Spiegel.

Satu ringkasan dokumen-dokumen itu diperoleh di jaringan internet http://www.wikileaks. org/wiki/Afghan War dan satu webpage di mana WikiLeaks mengatakan dokumen-dokumen itu disiarkan Senin (26/7/2010).

Jones mengatakan dokumen itu mengungkapkan satu periode dari Januari 2004 sampai Desember 2009, ketika Obama meluncurkan strategi baru Afghanistan.

"Presiden Obama mengumumkan satu strategi baru menambah pasukan untuk Afghanistan dan meningkatkan pusat serangan pada tempat-tempat persembunyian Al Qaida dan Taliban di Pakistan," kata Jones.

"Kita tahu, tantangan berat menanti di depan, tetapi jika Afghanistan kacau, kita kembali akan menghadapi ancaman dari kelompok garis keras seperti Al Qaida yang akan memiliki ruang untuk membuat rencana dan pelatihan," katanya.

WikiLeaks melakukan pembocoran informasi itu untuk mengecam pemerintah dan korupsi. Awal tahun ini WikiLeaks membocorkan satu video rahasia, yang menunjukkan serangan helikopter tahun 2007, yang menewaskan 12 orang di Irak, termasuk wartawan Reuters.

Dubes Pakistan untuk AS, Hussain Haqqani mengatakan membocorkan laporan tanpa proses menyangkut medan tempur adalah satu tindakan yang tidak bertanggungjawab.

"Laporan itu tidak mencerminkan apapun selain komentar dan rumor yang berkembang di kedua sisi perbatasan Pakistan-Afghanistan dan sering keliru," katanya.

Ada pernyataan lain mengenai campur tangan Pakistan di Afghanistan. Awal bulan ini London School of Economic menyiarkan laporan yang menyatakan, dukungan bagi Taliban adalah satu kebijakan resmi badan Intelijen Pakistan ISI (Inter-Services Itelligence).

Namun, pemerintah Pakistan membantah keras pernyataan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau