Kekerasan

Stasiun TV Dibom Bunuh Diri, 4 Tewas

Kompas.com - 27/07/2010, 03:18 WIB

BAGHDAD, KOMPAS.com - Serangan bom bunuh diri terhadap saluran televisi berita Al-Arabiya di Baghdad, Irak menewaskan sedikitnya empat orang, Senin (26/7/2010).

Penyerang meledakkan kendaraan kecil yang dikemudikannya di dekat pintu gerbang kantor Al-Arabiya di daerah Harithiya, Baghdad. Korban tewas adalah pekerja pembersih dan tiga penjaga, kata juru bicara keamanan kota itu, Mayor Jendral Qassim al-Moussawi. Setidaknya 10 orang lagi terluka dalam serangan tersebut.

Sedangkan kantor Al-Arabiya, gedung-gedung di dekatnya dan sejumlah mobil rusak parah akibat ledakan itu. Saluran televisi milik orang Saudi yang berpusat di Dubai itu melaporkan, empat orang tewas, sementara sumber di Kementerian Dalam Negeri menyebutkan, enam tewas dan 20 orang cedera.

Mantan Deputi Perdana Menteri Salam al-Zobai, seorang anggota blok lintas sektarian Iraqiya di parlemen, termasuk di antara mereka yang terluka bersama lima pengawal keamanannya, kata juru bicaranya. Rumah Zobai terletak di dekat lokasi ledakan.

Serangan itu terjadi beberapa pekan setelah pasukan keamanan Irak memperingatkan sejumlah media, termasuk televisi asing seperti Al-Arabiya, bisa menjadi sasaran serangan gerilyawan Sunni di negara itu.

"Ya, ada ancaman dari Al-Qaeda terhadap media dua bulan lalu. Karena itulah kami menempatkan patroli polisi di setiap lokasi media. Ancaman-ancaman masih ada," kata Moussawi kepada kantor berita Reuters. "Ciri khas Al-Qaeda terlihat jelas dalam pemboman bunuh diri ini."

Serangan itu merupakan yang terakhir dari rangkaian kekerasan yang meningkat lagi di Irak. Pada Rabu (21/7/2010), ledakan bom mobil merenggut 30 jiwa dan mencederai 46 orang di dekat sebuah masjid di daerah Syiah kota Baquba, sebelah utara Baghdad.

Ketidakpastian politik setelah pemilihan umum 7 Maret telah menyulut peningkatan kekerasan dalam beberapa bulan terakhir. Sebanyak 284 orang -204 warga sipil, 50 polisi dan 30 prajurit- tewas pada Juni.

Menurut data pemerintah, 337 orang tewas dalam kekerasan pada Mei. Kekerasan di Irak mencapai puncaknya antara 2005 dan 2007, kemudian menurun tajam, dan serangan-serangan terakhir itu menandai terjadinya peningkatan.

Hampir 400 orang tewas dan lebih dari 1.000 lain cedera tahun lalu dalam serangan-serangan bom terkoordinasi di sejumlah gedung pemerintah, termasuk kementerian-kementerian keuangan, luar negeri dan kehakiman pada Agustus, Oktober dan Desember. 

Pemilihan umum pada 7 Maret tidak menghasilkan pemenang yang jelas dan bisa memperdalam perpecahan sektarian di Irak, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai peningkatan kekerasan ketika para politikus berusaha berebut posisi dalam pemerintah koalisi yang baru.

Seorang jendral senior AS dalam wawancara dengan AFP beberapa waktu lalu memperingatkan, gerilyawan mungkin akan melancarkan serangan yang lebih mengejutkan seperti pemboman dahsyat di Baghdad pada 25 Oktober, menjelang pemilihan umum Maret.

Mayor Jendral John D. Johnson mengatakan bahwa meski situasi keamanan akan stabil pada pertengahan tahun ini, kekerasan bermotif politis yang bertujuan mempengaruhi bentuk pemerintah mendatang merupakan hal yang perlu dikhawatirkan.

Dua serangan bom bunuh diri menewaskan 153 orang di Baghdad pusat pada 25 Oktober. Rangkaian serangan dan pemboman sejak pasukan AS ditarik dari kota-kota di Irak pada akhir Juni telah menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pasukan keamanan Irak untuk melindungi penduduk dari serangan-serangan gerilya seperti kelompok militan Sunni Al-Qaeda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau