Pemborosan anggaran

SBY: Kunjungan ke Daerah Tak Bebani APBD

Kompas.com - 29/07/2010, 17:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Menanggpi pernyataan Komisi II DPR, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa dirinya dan rombongan tidak membebani anggaran daerah selama dirinya melakukan kunjungan ke daerah.

"Kunjungan Presiden ke daerah sama sekali tidak menggunakan anggaran daerah, (tapi) anggaran sendiri," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka sidang kabinet paripurna, Kamis (129/7/2010) di Kantor Presiden, Jakarta.

Terkait kunjungannya ke luar negeri, Presiden mengaku telah berusaha berhemat. Jumlah romobongan sejak tahun 2005 dipangkas 15 persen. "Kemudian anggaran-anggaran yang dulunya menggunakan anggaran negara padahal pribadi, saya hentikan. Tidak boleh ada anggaran negara untuk pemakaian pribadi karena jumlahnya bisa sangat besar," kata Presiden.

Presiden mengaku, baru-baru ini dirinya menerima laporan dari para duta besar Indonesia di luar negeri soal banyaknya kunjungan kepala daerah dan pejabat negara yang menggunakan anggaran kedutaan besar. Presiden mengatakan hal ini sesuatu yang tidak pas.

"Kita ke luar negeri jangan sekali-kali meminta anggaran duta besar. Duta besar memiliki anggaran untuk kegiatan yang sudah direncanakan" katanya.

Presiden meminta semua pihak sungguh-sungguh menjalankan prinsip administrasi dan akuntabilitas keuangan sebaik-baiknya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau