Ancaman

Wartawan Merauke TV Ditemukan Tewas

Kompas.com - 31/07/2010, 04:07 WIB

Jayapura, Kompas - Ardiansyah Matra’is (25), wartawan Merauke TV di Kabupaten Merauke, Papua, Jumat (30/7) pagi, ditemukan tewas terapung di aliran Sungai Marau di kawasan Gudang Arang. Polisi tidak menemukan bekas-bekas penganiayaan pada jenazah, tetapi otopsi tetap dilakukan untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Kejadian ini cukup menimbulkan kegelisahan di antara pekerja pers karena sebelumnya beredar pesan singkat melalui telepon seluler (SMS) yang berisi ancaman pembunuhan terhadap wartawan di Merauke. Ancaman disampaikan terkait proses Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Merauke yang akan berlangsung Agustus 2010.

Kepala Kepolisian Resor Merauke Ajun Komisaris Besar Djoko Prihadi mengatakan, berdasarkan hasil visum di Rumah Sakit Merauke, tidak ada tanda-tanda penganiayaan. ”Kami masih melakukan otopsi organ dalam jenazah untuk lebih jelasnya,” paparnya.

Hasil otopsi, lanjut Djoko, akan dikeluarkan Pusat Laboratorium Forensik Polri di Makassar, Sulawesi Selatan.

Otopsi, kata Djoko, semula ditolak keluarga Ardiansyah. Alasannya, mereka sudah merelakan kepergian Ardiansyah dan berasumsi almarhum depresi berat sehingga nekat menceburkan diri ke sungai.

Ardiansyah, ujar Djoko, pernah menjadi wartawan tabloid Jubi di Jayapura. Kemudian terkena depresi dan dirawat sebulan di Rumah Sakit Jiwa Abepura, Jayapura, Papua.

Pada Mei 2010 Ardiansyah kembali ke kampung halamannya di Merauke dan bekerja sebagai wartawan Merauke TV (Grup Top TV Jayapura). Namun, dia hanya bertugas beberapa hari dan kemudian beristirahat di rumah karena depresi.

Ancaman

Rabu siang lalu Ardiansyah dilaporkan keluar rumah menggunakan motor, tetapi hingga malam tak kunjung pulang. Pencarian yang dilakukan petugas dan kerabatnya hanya menemukan motor dan sandal Ardiansyah di tepi Jembatan Sungai Marau.

Kemarin pagi warga menemukan jenazah Ardiansyah terapung di kawasan Gudang Arang. Ardiansyah ditemukan dalam keadaan tanpa pakaian.

Tentang merebaknya SMS berisi ancaman kepada wartawan, Djoko mengatakan, hal itu masih diselidiki Polres Merauke.

Pada Rabu lalu, wartawati Bintang Papua di Merauke bernama Lala melaporkan kepada polisi bahwa dia menerima SMS yang berisi ancaman pembunuhan terhadap wartawan di Merauke. Pengirim SMS (dari nomor 081230013XXX) menuliskan bahwa polisi dan TNI tidak akan berbuat apa-apa saat Merauke berlumuran darah.

Polisi, menurut Djoko, masih menyelidiki lebih lanjut apakah kematian Ardiansyah berkaitan dengan ancaman tersebut.

Sejumlah wartawan di Merauke mengaku, hingga kini mereka masih tertekan dengan ancaman dan penemuan jenazah Ardiansyah. ”Kami khawatir mengalami tindakan serupa. Kami minta agar polisi benar-benar mengusut kasus ini dan menyeret pelaku teror SMS ke pengadilan,” kata Adi Muslimin, wartawan koran lokal. (ich)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau