MAJUKY FAQIRABAD, KOMPAS.com -
”Banjir menyapu apa saja di sekitarnya. Tidak ada satu pun yang luput,” kenang Gul, warga Malikabad, Nowshera, seperti dituturkan AFP.
Gul sedang menyusui bayi laki-lakinya yang baru berusia tujuh bulan. Anaknya itu dibiarkan telanjang karena memang tidak ada pakaian untuk membalut tubuh mungilnya. Dua anaknya yang lain, Fiza (5) dan Hasan (6), merengek meminta makan dan minum. Suaminya, seorang tukang kayu, pergi mencari dua anaknya yang hilang.
Mereka tinggal di tenda darurat yang dibangun seadanya oleh seorang pengusaha lokal. Sebelumnya mereka sudah tiga kali berusaha ke tenda pengungsian yang dibangun pemerintah, tetapi sudah penuh sesak. Wajah tiga anaknya dipenuhi bentol akibat gigitan nyamuk.
Kondisi yang sama dihadapi ribuan pengungsi lainnya. Para pengungsi terancam kelaparan dan penyakit. Menteri Kesehatan Syed Ali Zahir Shah mengatakan, sekitar 100.000 orang, sebagian besar anak-anak, menderita penyakit seperti gastroenteritis.
Setelah tidak memiliki harta benda akibat banjir, kini para korban terbelit dalam kondisi hidup yang sulit akibat terbatasnya bantuan. ”Ribuan orang hidup dalam kondisi yang menyedihkan,” kata Ateeb Siddiqui, Direktur Operasi Masyarakat Bulan Sabit Merah Pakistan.
”Penyediaan air bersih dan sanitasi merupakan prioritas utama jika kita ingin mencegah bencana kesehatan masyarakat,” katanya.
Akibat minimnya bantuan, sekitar 640 keluarga di daerah barat laut Nowshera, umumnya perempuan dan anak-anak, berlari mengejar kendaraan pengangkut makanan dan air. Mereka berteriak mengecam pemerintah karena dinilai lamban dan bahkan kurang responsif dalam hal menyalurkan bantuan.
Bistma Bibi (65), warga Charssada, yang kehilangan dua cucu akibat banjir, menuduh petugas penyalur bantuan hanya mementingkan keluarga dan sahabat. ”Saya meminta bantuan, tetapi tidak mendapat apa-apa. Mereka menyalurkan bantuan hanya kepada sahabatnya,” katanya.
Di saat ribuan pengungsi berdesak-desakan di tenda penampungan dan di saat korban banjir mengeluh kekurangan bantuan dan pakaian, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari malah meninggalkan negerinya. Dia melakukan lawatan ke Perancis dan Inggris. Lawatannya itu dikecam berbagai kalangan di dalam negeri, terutama para korban banjir.
”Mengapa Zardari ke Perancis dan Britania pada saat jutaan rakyat kesulitan,” kata Murad Khan, warga Majuky Faqirabad, salah satu desa terparah akibat banjir. ”Kami sedang menghadapi situasi mengerikan. Presiden seharusnya tidak meninggalkan negara,” katanya.
”Dua gadis belia di lingkungan saya tenggelam. Zardari seharusnya mendahulukan kunjungan ke daerah bencana dan mengambil langkah-langkah konkret mengatasi persoalan yang ada, menghibur korban, dan bukannya bersukacita terbang ke Perancis dan Inggris.” kecam Sher Khan (40), juga warga Majuky.
Asif Ali Zardari menjadi Presiden Pakistan sejak 2008 setelah Benazir Bhutto tewas terbunuh. Zardari bertemu Presiden Perancis Nicolas Sarkozy hari Senin lalu. Selasa, Zardari rencananya mengunjungi sebuah puri abad ke-16 yang dimiliki keluarga Zardari di Normandia sebelum ke Inggris menemui Perdana Menteri Inggris David Cameron.(AFP/AP/REUTERS/CAL)