5-6 agustus 2010

4 Agenda dalam Rekernas di Istana Bogor

Kompas.com - 05/08/2010, 10:43 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, rapat kerja nasional di Istana Bogor akan membahas empat agenda utama, yaitu kondisi ekonomi makro, APBN, APBD, dan percepatan penyerapan anggaran. Presiden dalam pengarahan awal rakernas itu, Kamis (5/8/2010) menjelaskan, topik yang akan dibahas pertama kali dalam rapat kerja itu adalah kondisi ekonomi makro Indonesia.

Para peserta rapat kerja yang terdiri dari para menteri, gubernur, dan pimpinan BUMN diharapkan memilik gambaran dan pengetahuan tentang ekonomi makro, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam berbagai kebijakan ekonomi yang bersifat riil. "Dengan memahami ekonomi makro, maka kita bisa mengembangkan ekonomi mikro dan riil," kata Presiden.

Paparan tentang ekonomi makro juga akan memberikan gambaran tentang kontribusi APBN dan APBD terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemudian, Kepala Negara juga meminta peserta rapat mengikuti paparan tentang kondisi dan postur APBN. Diskusi tentang APBN akan memberi pengetahuan kepada para kepala daerah tentang kebijakan pemerintah pusat tentang APBN.

Para kepala daerah juga diharapkan bisa mengetahui kemampuan APBN dalam membiayai berbagai belanja di tingkat pusat dan daerah. Selain itu, pemerintah daerah juga akan mengetahui potensi pendapatan daerah dari APBN dalam bentuk Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil, Dana Otonomi Khusus, dan Dana Penyesuaian.

Diskusi tentang APBN, kata Kepala Negara, juga akan membahas tentang beban APBN akibat pembayaran bunga utang dan pembangunan infrastruktur.

Agenda berikutnya adalah pembahasan APBD sebagai proyeksi penentuan anggaran daerah. Pembahasan APBN dalam rapat kerja itu juga diharapkan bisa menjadi potret atau refleksi pengelolaan anggaran daerah selama ini. "Berapa banyak yang digunakan untuk membangun gedung, membeli mobil, dan berapa yang digunakan untuk mengembangan fasilitas umum," kata Presiden Yudhoyono.

Agenda terakhir yang akan dibahas dalam rapat kerja itu adalah percepatan penyerapan anggaran dan revisi Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Presiden menegaskan, penyerapan anggaran yang baik akan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Kalau telat penyerapannya, sudah pasti sumbangan APBN dan APBD terhadap pertumbuhan akan terhambat," katanya.

Terkait revisi Keppres tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, Presiden menjelaskan hal itu disebabkan beberapa pihak menganggap Keppres tersebut terlalu kaku. Presiden berharap, Keppres hasil revisi lebih fleksibel dan tidak terlalu birokratis. Namun, revisi harus tetap dilakukan berdasar tujuan yang baik. "Tidak boleh keluar dari tujuan baik itu," katanya.

Rapat Kerja di Istana Bogor akan berlangsung dua hari, 5-6 Agustus 2010. Rapat kerja di Istana Bogor adalah rapat kerja nasional ke-3, pemerintah telah mengadakan dua rapat serupa di Istana Cipanas dan Tampaksiring.

Rapat kerja di Cipanas telah menghasilkan Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Sedangkan, rapat kerja di Tampaksiring membahas pembangunan ekonomi yang berkeadilan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau