Wisata

Peledang Lamalera, Bukan Sekadar Perahu

Kompas.com - 18/08/2010, 15:49 WIB

SEJUMLAH perahu rusak dan lapuk tersimpan di naje, suatu rumah di pinggir pantai Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Namun, perahu itu tak mungkin dibuang apalagi dijual sebagai barang tua atau rongsok. Perahu itu amat disakralkan.

Pesan leluhur yang diwariskan secara turun temurun itu senantiasa dipegang teguh masyarakat setempat. Perahu, khususnya peledang (tena lamafaij) yang digunakan khusus untuk berburu paus (koteklema), tak boleh dijual dengan alasan apa pun. Peledang Lamalera juga tidak bisa didatangkan dari luar daerah atau dibawa ke luar daerah.

Peledang adalah perahu besar yang dilengkapi layar dari anyaman daun gebang. Panjangnya sekitar 10 meter, lebar lebih kurang 2 meter, tingginya 1-1,5 meter. Peledang dilengkapi cadik di sisi kanan dan kiri. Cadik ini dimaksudkan membantu melindungi awak perahu ketika paus mengamuk dan mencoba menyerang.

Adat istiadat ini membuat semakin banyak pihak penasaran. Banyak kalangan sampai luar negeri yang merayu-rayu kepada pemangku adat setempat. Mereka ingin sekali membeli perahu Lamalera.

”Dari luar negeri yang sudah memesan perahu utuh, antara lain pengelola museum di Inggris, lalu orang Jepang, serta Pemerintah Provinsi NTT. Tetapi, saya katakan kepada mereka, perahu Lamalera ditukar dengan pesawat sekalipun tak akan diberikan. Ini sudah pesan dari nenek moyang sehingga tak boleh dilanggar,” kata Kepala Suku Bediona, Abel Onekala Beding, yang juga seorang atamola, arsitek perahu.

Abel, yang tamatan Sekolah Menengah Pembangunan St Yoseph Maumere, Flores, itu juga menjelaskan, peledang dibuat biasanya pada bulan Oktober, saat berakhir musim berburu paus (Mei-Oktober).

Masa pembuatan perahu selesai bulan Maret, minimal sudah dapat dioperasikan bulan April, sehingga tepat pada bulan Mei, di awal lefa nuang, musim melaut, perahu yang baru itu sudah dapat turun ke laut.

Ritual adat

Pembuatan peledang diawali dengan ritual pau laba ketilo, acara di rumah adat, atamola. Semua suku turut diundang untuk menaikkan doa kepada leluhur, juga memberi makan peralatan yang akan digunakan dengan sesaji khusus supaya dapat berjalan baik dan lancar.

Ukuran papan perahu Lamalera juga tidak dibuat sembarangan, begitu pula persambungan antarpapan, juga urutan susunan satu dengan lainnya harus mengacu pada ketentuan adat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Apabila dilanggar dan terjadi kekeliruan teknis pemasangan dapat menimbulkan dampak kurang harmoni antara haluan dan buritan perahu, dan hal itu juga berpengaruh pada gerak kelancaran dan kecepatan perahu, serta kemungkinan terjadi keretakan pada setiap persambungan atau kerenggangan pada persambungan papan sehingga air laut mudah masuk ke dalam perahu.

Pada badan peledang juga tidak boleh ada unsur besi, seperti paku atau pun baut. Kalau dilanggar, diyakini paus akan menghantam dan perahu bisa hancur berkeping-keping. Jika perahu rusak diserang paus, hal itu juga diyakini masyarakat setempat telah terjadi kesalahan dalam pembuatan perahu.

”Biasanya atamola tak bisa tidur ketika perahu buatannya diuji berburu paus untuk pertama kalinya. Seperti perahu Kelulus buatan saya, hati saya begitu lega waktu Kelulus kembali dengan selamat ke darat,” kata Abel.

Puncak pembuatan peledang ditutup dengan ritual pau soru naka, penyimpanan kembali perkakas ke tempatnya, serta pengucapan terima kasih karena peralatan yang dianggap berjiwa itu telah bekerja dengan baik hingga perahu dapat selesai dibuat.

Peledang dibuat khusus dari kayu angsana (Pterocarpus indica) yang sampai saat ini masih tersedia melimpah di Lembata. Menurut tokoh Suku Lelaona, Martinus Huku, yang juga seorang atamola, untuk membuat satu perahu setidaknya dibutuhkan sekitar 20 pohon angsana, yang harganya Rp 300.000-Rp 400.000 per pohon. Saat ini diperkirakan harga 1 perahu Lamalera Rp 50 juta-Rp 100 juta.

GA Herridge, peneliti perahu tradisional (Lashed-lug beat of the eastern archipelagoes, 1982), menggolongkan perahu Lamalera sebagai salah satu sisa dari metode pasak ikat yang dikenal pada awal kebudayaan zaman perunggu Indo-Eropa.

Lamalera dengan segala kekayaan tradisinya memiliki pesona tersendiri. Tradisi ini termasuk salah satu tradisi paling unik di dunia. (Samuel Oktora)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau