Gelandangan dan Pengemis Serbu Cimahi

Kompas.com - 18/08/2010, 22:46 WIB

CIMAHI, KOMPAS.com - Jumlah gelandang pengemis dan anak jalanan di kota Cimahi di bulan Puasa mengalami peningkatan 10 persen lantaran Cimahi menjadi daerah lintasan menuju ibukota provinsi.

Kepala Bidang Sosial Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, Sosial, dan Tenaga Kerja Kota Cimahi Rudi, Rabu, Priadi mengatakan, hasil sensus penduduk oleh BPS Cimahi beberapa waktu lalu menyebutkan, terdapat 52 gelandangan pengemis dan anak jalanan di Cimahi.

Mereka biasanya beroperasi di pusat-pusat niaga seperti Pasar Antri Baru Jln. Sriwijaya serta Pasar Cimindi di Jln. Leuwigajah.

Selain itu, mereka juga biasa mangkal di Stasiun Kereta Api Cimahi serta perlintasan kereta api di dekat RS Dustira.

"Biasanya mereka yang menjadi anak jalanan itu berasal dari luar Kota Cimahi dan jumlahnya di bulan puasa mengalami peningkatan," kata Rudi di ruang kerjanya, Rabu (18/8/2010).

Menurutnya, para geladangan pengemis dan anak jalanan yang berada di Cimahi biasanya biasa mangkal di daerah lain.

Namun, ketika ada razia, mereka melarikan diri dan untuk sementara mangkal di Cimahi.

Dalam operasi penyakit masyarakat (pekat) sebelum puasa beberapa waktu lalu, Satpol PP Kota Cimahi berhasil mengamankan 51 gelandangan dan penemis serta anak jalanan.

Namun, hanya sembilan orang yang berasal dari Kota Cimahi. Sisanya merupakan warga Kab. Bandung Barat, Kota Jakarta Utara, Kota Depok, dan Kota Bandung.

"Kita biasanya meminta mereka untuk kembali ke daerah masin-masing. Kalau tidak punya rumah, kita titipkan ke panti sosial atau rumah sakit jiwa kalau jiwanya terganggu. Kita juga koordinasi dengan Dinas Sosial daerah asal mereka," ungkapnya.

Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Dinas Kependudukan, Pencatatan Sipil, Sosial, dan Tenaga Kerja Kota Cimahi Agustus Fajar menambahkan, penghasilan mereka di Cimahi berkisar Rp 75.000 dan Rp 100.000 perhari. Itu sebabnya, mereka selalu kembali untuk melakukan pekerjaan yang sama.

Setelah bekerja, biasanya mereka mangkal di beberapa titik, yaitu Pasar Kuda, Kolong Jembatan Layang Cimindi, di belakang Rumah Sakit Dustira, Pasar Antri Baru, dan Stasiun Cimahi.

"Bisa dibilang penghasilan yang mereka dapatkan dari mengemis itu lumayan besar ketimbang mereka bekerja. Karena besarnya penghasilan inilah yang menjadi kendala kita dalam menanggulanginya," tandasnya.

Diharapkannya, warga masyarakat untuk tidak membiasakan memberi sesuatu kepada mereka yang menjadi gepeng dan anjal. Pasalnya, hal itu tidak akan membuat mereka dan mandiri serta berpikir sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau