Sisi lain

Mengapa Ruhut Begitu Kontroversial?

Kompas.com - 19/08/2010, 09:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ruhut Sitompul (56) seolah tak pernah sepi diberitakan berkat keberaniannya yang kontroversial di berbagai bidang sejak ia masih menjadi pengacara hingga kini menjadi anggota DPR sekaligus Ketua DPP Partai Demokrat.

Nama dari pria yang lahir di Medan 24 Maret 1954 ini melejit sejak berperan sebagai tokoh pongah "Poltak", si raja minyak dari Tarutung, dalam sinetron Gerhana.

Terbaru, Ruhut melemparkan wacana amandemen UUD 45 untuk perpanjangan masa bakti presiden RI dari dua periode menjadi tiga periode. Menurut Ruhut, ide itu bukan hanya sekarang dilontarkan seusai peringatan HUT Proklamasi ke-65 RI, melainkan sudah diusulkan kepada presiden sekitar enam bulan silam di kalangan internal Demokrat.

Namun, masih menurut Ruhut, saat itu Presiden SBY menolak ide tersebut dan menegaskan bahwa periode kepemimpinannya sekarang adalah yang terakhir alias ia tidak akan maju lagi dalam Pilpres 2014.

Ruhut membantah bahwa usulnya itu adalah skenario tertentu. Ia juga mengaku bahwa ide itu dari hati yang paling dalam. Meski demikian, kontan saja ide kontroversial tersebut mengundang berbagai komentar dan tanggapan, baik dari politikus maupun ahli hukum. Tanggapan muncul tak terkecuali dari Ketua MK Mahfud MD yang menilai, jika sampai terjadi, maka hal itu mencederai demokrasi.

Alumni Fakultas Hukum Unpad 1979 ini adalah anak kedua dari pasangan Humala Sitompul dan Surtani Panggabean yang kemudian memulai kariernya sebagai pengacara. Ia pun pernah menjadi pengacara Akbar Tanjung, Ketua Golkar sebelum Jusuf Kalla, dan pernah menjadi pembela sejumlah yayasan milik mantan Presiden, Soeharto, saat semua orang kala itu menghujat Orde Baru.

Sebenarnya kontroversi sudah sering dan seakan melekat pada penampilannya yang kerap berbeda dari yang lain. Dalam kasus Bank Century, Ruhut menyatakan rela bila kupingnya dipotong jika dana bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun mengalir ke Partai Demokrat dan SBY. Ruhut pun menegaskan, dana Bank Century tak ada kaitannya, baik dengan Presiden maupun Demokrat (20/11/2009).

Lebih heboh dari itu, Ruhut juga mengaku siap dipotong lehernya jika Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono) menerima duit Century Rp 500 miliar. Bahkan, sebelum pemilihan ketua Pansus Hak Angket Century pun, Ruhut berani bersumpah bahwa yang akan menjadi ketua adalah Idrus Marham, orang Golkar.

"Si Poltak" juga pernah bersumpah siap dirajam dan dicabut nyawanya jika Wapres Boediono dan Sri Mulyani bersedia menghadiri pemanggilan Pansus Century. Faktanya, Sri Mulyani hadir ke DPR ketika dipanggil oleh Pansus Century, 20 November 2009.

Lain hal, Ruhut Sitompul pernah terlibat cekcok dengan Gayus Lumbuun dalam kasus Bank Century hingga keluar kata kasar "bangsat", dan hal itu menuai kritik dari banyak pihak karena dinilai sebagai hal yang tidak etis. Ruhut pernah memanggil Jusuf Kalla dengan sebutan "Daeng" yang menyinggung perasaan etnis Makassar karena dinilai merendahkan mantan Wapres tersebut.

Sebelum itu, ketika musim kampanye Pilpres 2009, Ruhut pun pernah mengeluarkan pernyataan heboh, "Arab tidak pernah membantu Indonesia". Yang dia maksud kala itu adalah menyindir tim sukses Mega-Prabowo, Fuad Bawazier, yang keturunan Arab. Pernyataan-pernyataan itu terus membuat heboh media, menuai kecaman reaksi keras, dan kala itu umat Islam juga tersinggung dengan ulah Ruhut. Ruhut dan Partai Demokrat akhirnya meminta maaf.

Lantas, masih adakah rencana Ruhut untuk melontarkan isu dan wacana yang kontroversial? Mengapa "Si Poltak" itu sering membuat pernyataan kontroversial?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau