Wacana pemindahan ibu kota

Ibukota Pindah, Hanya Butuh Keberanian

Kompas.com - 22/08/2010, 17:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana perlunya memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke kota lain selain di Pulau Jawa masih terus bergulir. Tim Visi Indonesia 2033 yang melontarkan wacana ini berpandangan, pemindahan Ibu kota penting untuk penyebaran pembangunan dan kesejahteraan ke kawasan Timur Indonesia.

Sejauh ini, pemerintah belum menanggapi serius wacana ini. Pemerintah, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, akan mengkaji usulan tersebut. "Presiden hanya mengatakan akan mengkaji. Tetapi, ini kan memang gayanya Presiden. Akan mengkaji, akan mengkaji, tanpa tindak lanjut dengan membentuk tim yang akan mengkaji atau berdiskusi serius tentang usulan ini," kata Koordinator Visi Indonesia 2033, Andrinof A Chaniago, dalam diskusi "Pemindahakan Ibu kota ke Kalimantan", Minggu (22/8/2010) sore, di Jakarta.

Menurutnya, selama Jakarta masih dijadikan pusat pemerintahan dan bisnis, maka tidak akan ada harapan bagi daerah lain untuk berkembang dan maju.

Anggota Tim Visi Indonesia 2033, M. Jehansyah Siregar mengatakan, untuk menjajaki usulan ini, sebenarnya hanya butuh keberanian pemerintah. "Perlu keberanian untuk menggerakkan seluruh komponen bangsa kalau memang ingin membangun Indonesia yang lebih baik," kata Jehan.

Salah satu kawasan yang dinilai layak sebagai Ibu kota negara yang baru adalah Kalimantan. Visi Indonesia 2033 memandang pemindahan Ibu kota penting untuk menghindari berbagai langkah paradoks dalam mencapai cita-cita bangsa yang ingin mewujudkan Indonesia yang sejahtera, berkeadilan dan perekonomian yang berkelanjutan.

Jakarta, dengan segudang persoalannya yang kompleks dianggap tak lagi layak menjadi Ibu kota negara. Secara ekonomis, pemindahan Ibu kota yang diprediksi menghabiskan biaya sekitar Rp 50 hingga Rp 100 triliun, akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan kerugian akibat kemacetan Jakarta yang diprediksi mencapai Rp 20 triliun setiap tahunnya.

Pembiayaan sebesar hingga Rp100 triliun diusulkan bisa dianggarkan dalam 10 tahun anggaran. Sehingga, setiap tahunnya, APBN akan terserap Rp 10 triliun setiap tahun untuk merealisasikan usulan ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau