Inilah Arah Kiblat Itu...

Kompas.com - 27/08/2010, 11:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama atau LFNU KH Ghazali Masruri menegaskan, arah kiblat dari Indonesia adalah barat laut, bukan arah barat seperti yang selama ini dipahami khalayak awam.

"Kiblat bukan di barat, tapi di barat laut. Dari arah barat lurus bergeser sedikit ke utara kira-kira antara 20 dan 25 derajat," kata Kiai Ghazali dalam seminar bertajuk Kontroversi Arah Kiblat yang digelar Lembaga Ta`mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) di Jakarta, baru-baru ini.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengumumkan temuannya bahwa telah terjadi kekeliruan arah kiblat kaum Muslim Indonesia.

Selama ini, kebanyakan kaum Muslim Indonesia shalat menghadap Afrika. Namun, seiring dengan pergeseran lempeng bumi, arah kiblat bagi umat Muslim Indonesia bergeser sekitar 140 sentimeter.

Dipandang dari posisi Indonesia, selama ini sebagian kaum Muslim Indonesia yang melaksanakan shalat beranggapan bahwa Kabah terletak di sebelah barat laut.

Namun, menurut sejumlah ahli falak atau astronomi, arah kiblat dari posisi Indonesia kini berubah. Perubahan arah kiblat diangkat dalam acara Semiloka Nasional Kementerian Agama di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Mantan Menteri Agama, Tolchah Hasan, menyebutkan bahwa perubahan itu terjadi lantaran adanya pergeseran lempeng bumi.

Pendapat tersebut sejalan dengan fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2010. Menurut MUI, telah terjadi kesalahan arah kiblat dari posisi Indonesia. Oleh karena itu MUI mengimbau, kaum Muslim agar segera menyesuaikan arah kiblatnya.

Secara sederhana, penyesuaian arah kiblat dapat dilakukan dengan melihat bayang-bayang matahari pada waktu tertentu atau rashdul kiblat.

Rashdul kiblat itu setiap 28 Mei pukul 16.18 WIB atau setiap 16 Juli pukul 16.27 WIB. Pada saat itu, semua benda tegak lurus adalah arah kiblat.

Walau demikian, pada dasarnya rashdul kiblat dapat dihitung dalam setiap harinya dengan mengetahui deklinasi matahari. Hanya, penetapan dua hari rashdul kiblat tersebut adalah atas pertimbangan bahwa matahari benar-benar di atas Kabah.

Ghazali juga sependapat bahwa medio Juli itu merupakan saat yang tepat untuk meluruskan arah kiblat. Berdasarkan data hisab LFNU, pada pukul 16.26 WIB, matahari akan tepat berada di atas Kabah.

Hal itu akan membantu umat Muslim dalam meluruskan arah kiblat dengan cara yang sederhana karena, saat matahari tepat di atas Kabah, segala sesuatu yang berdiri tegak, bayangannya menuju kiblat.

"Harap kaum Muslim dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mengukur arah kiblat di rumah masing-masing, mushala, dan masjid setempat," katanya.

Untuk itu, LFNU mengimbau jajarannya di seluruh Indonesia untuk memelopori Gerakan Peduli Rosydul Qiblat (GPRQ), gerakan pelurusan arah kiblat, seperti yang pernah dilakukan pada bulan Mei.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau