Si Miskin dan Kaya di Pasar Tanah Abang

Kompas.com - 31/08/2010, 18:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Apakah berlebaran harus identik dengan baju baru, sepatu baru? Bagi beberapa orang mungkin enggan mengakuinya dan beralasan belanja untuk lebaran adalah merupakan sebuah tradisi dalam keluarga.

Hal inilah yang kemudian menciptakan siklus musiman dimana jelang lebaran, pusat perbelanjaan mulai diserbu warga. Keramaian jelang Lebaran ini juga terjadi di Pasar Tanah Abang.

Dedeh (54) misalnya, mengaku sengaja datang sendiri ke pasar tersebut dari rumahnya di Rawamangun khusus untuk membeli baju baru bagi anak dan cucu-cucunya.

"Yah kalau dibilang harus baju baru sih nggak, tapi namanya juga sudah tradisi di keluarga. Jadi tiap tahun kita pasti belanja," ujarnya, Selasa (31/8/2010), di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta.

Dedeh berujar untuk belanja keperluan lebaran ini dirinya memang mempersiapkan dana khusus yakni mulai Rp 500.000-Rp 1.000.000,-.

"Ini jadi hadiahlah buat cucu merayakan sudah sebulan puasa," ungkapnya.

Senada dengan Dedeh, Dewi (39), warga Bekasi, juga mengaku sudah merupakan tradisi dalam keluarganya untuk berlebaran dengan baju baru.

"Terutama anak-anak, dan juga bapaknya. Pasti pas lebaran harus baru, karena alasannya momen sekali setahun," ujar ibu dua anak ini.

Tidak hanya anak-anak dan suami, Dewi juga menyiapkan baju-baju yang akan diberikannya kepada sanak keluarga. Total belanjanya?

"Wah bisa lebih dari sejuta ini sekali belanja. Ini belum termasuk baju-baju untuk saudara yang sudah kita beli sebelum bulan puasa," akunya. Berdasarkan pantauan Kompas.com, di dalam gedung Blok A Pasar Tanah Abang memang tampak ramai ibu-ibu tengah bertransaksi membeli baju muslim, mukenah, ataupun tas dan sepatu.

Tak jarang, pengunjung yang keluar dari pasar menenteng lebih dari dua kantong belanjaan. Menelisik sedikit keluar gedung blok A, sekitar seratus meter dari lobi utama, tampak seorang bapak yang duduk di atas aspal dengan kantong plastik kosong di depannya.

Kakinya tampak berukuran kecil akibat polio, tidak proporsional dengan bagian atas tubuhnya. Dengan kaki seperti itu, tak mengherankan bapak ini hanya terus duduk di bawah terik matahari.

"Saya dari pagi sampai sore memang biasa di sini kalau tidak diusir petugas. Yah dukanya panas saja kena matahari," ujar Bujang (45).

Tidak seperti pengemis lainnya yang selalu menadahkan tangan sambil meminta kepada setiap orang yang lewat, Bujang memiliki prinsip lain. Baginya, menadahkan tangan adalah haram, ia hanya mau menerima bantuan orang-orang yang ikhlas tanpa harus ia minta.

Maklum, ia terbiasa berdagang di kampung halamannya di Bangka. Namun, modal berdagang itu habis ketika sang istri menderita usus buntu.

Bujang pun terpaksa merantau ke Jakarta mencari uang untuk istri dan seorang anaknya berumur 11 tahun. Menjelang lebaran ini, satu-satunya hal yang ingin dilakukan Bujang bukanlah menyiapkan baju baru.

"Wah baju baru mana bisa, yang penting saya bisa pulang kampung ketemu keluarga. Mereka syukurnya pengertian kalau saya tidak bawa apa-apa ke kampung," ujarnya.

Melihat ribuan pengunjung Pasar Tanah Abang yang sibuk mencari baju lebaran, sementara masih ada yang bernasib kurang sepertinya, tak membuat Bujang merasa iri atau kesal kepada orang-orang tersebut.

"Yah semua orang punya rejekinya masing-masing. Banyak juga orang yang datang kesini mereka juga sebenarnya kesulitan perlu biaya ini. Jadi kita yang penting ikhlas saja," tandas Bujang.

Bujang berharap dirinya tidak perlu lagi hidup dari mengemis seperti ini, ia mengaku malu meski tetap harus menjalani semua itu dengan tabah karena menurutnya nasib bisa berubah kapan saja. Banyak pernak-pernik yang terjadi di Pasar Tanah Abang jelang hari raya Idul Fitri ini.

Ironi si Miskin dan si Kaya inilah salah satunya. Banyak dari kita sibuk mempersiapkan segala hal yang sifatnya materi untuk berlebaran.

Sementara kita lupa bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Makna Idul Fitri sejatinya tidak dilihat dari seberapa bersih dan seberapa mahal baju yang kita pakai.

Tapi lebih dari itu, makna Idul Fitri sebaiknya dimaknai sebagai makna kebersamaan dan saling berbagi kepada yang membutuhkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau