Aksi kemanusiaan

Warga Mandiri Tangani Pengungsi

Kompas.com - 01/09/2010, 03:40 WIB

Belasan remaja membagikan makan siang kepada para pengungsi di pengungsian Jambur Lige, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (31/8). Di dapur umum, puluhan warga laki-laki dan perempuan sibuk menata nasi dan lauk-pauk. Sesekali terdengar gurauan di antara mereka tentang suasana pengungsian.

Mereka adalah warga Kecamatan Berastagi dan Kabanjahe yang secara sukarela membantu para pengungsi. Kecamatan Kabanjahe dan Berastagi merupakan pusat konsentrasi pengungsi yang saat ini berjumlah 24.111 jiwa. Para pengungsi datang dari sedikitnya 26 desa di kaki Gunung Sinabung. Para pengungsi tersebar di 22 tempat pengungsian, terutama jambur-jambur.

Di tempat pengungsian, warga dari beberapa desa di Kecamatan Kabanjahe dan Berastagi mendatangi jambur-jambur tanpa diminta untuk membantu. Mereka tidak hanya membantu tenaga, tetapi juga berbagi logistik, seperti beras, mi, selimut, dan air mineral.

”Awalnya hanya 40 orang. Sekarang sudah ada 100 orang yang membantu para pengungsi. Saya hanya mengoordinasi karena mereka datang sendiri,” kata Naksir Purba (51), tetua adat sekaligus Ketua Pengelola Jambur Taras, Kecamatan Berastagi.

Sebanyak 2.350 pengungsi dari 23 desa berlindung di Jambur Taras dengan membawa bekal seadanya. Bahkan, tidak sedikit yang mengungsi hanya dengan baju di badan karena panik saat Gunung Sinabung meletus. Naksir dan warga desa setempat yang menyiapkan tikar, selimut, listrik, dan makanan bagi pengungsi. Mereka mengorganisasi diri secara spontan dikoordinasi tetua adat.

Para pengungsi datang dari desa-desa yang berjarak 20-24 kilometer dari Berastagi. Pengurus Jambur Taras hanya mengenal beberapa pengungsi, tetapi mereka menyambut para pengungsi bak menyambut sanak saudara sendiri.

Sukarelawan di Jambur Taras, Bela Bangun (61), menyampaikan pesan bahwa para pengungsi dianggap saudara sendiri.

”Siapa yang tega melihat ribuan orang panik, ketakutan, kehujanan, dan kelaparan, sementara di rumah kami masih cukup makanan,” katanya.

Bela tergerak dan menghubungi sanak saudaranya di Berastagi untuk membagikan beras, mi, dan bahan makanan lain untuk para pengungsi. Hal serupa dilakukan puluhan warga lain.

Warga yang tidak bisa menyumbang bahan makanan akan membantu dengan tenaga. ”Saya tidak bisa menyumbang uang atau makanan. Saya melihat tenaga saya dibutuhkan, maka saya membantu para pengungsi,” kata Caterine Ginting (14), tenaga sukarela di Jambur Lige yang menampung 2.500 pengungsi.

Di Jambur Adil Makmur, para tenaga sukarela bekerja dengan pola sehari kerja sehari libur. Warga, guru, dan mahasiswa terlibat di sana.

Siang-malam para pekerja sukarela berjibaku menolong pengungsi. Pemuka agama dan aktivis gereja membantu meringankan beban pikiran pengungsi, terutama anak-anak, dengan lagu-lagu rohani.

Di Jambur Taras, pengorganisasian warga berjalan rapi. Pada hari pertama pengungsian, Sabtu (28/8), sampai hari ketiga, semua urusan konsumsi dan keperluan warga ditangani pengurus jambur.

Memasuki hari keempat, saat kondisi gunung dan gelombang pengungsi stabil, para pengungsi mulai dilibatkan untuk mengurus diri mereka. Pengurus jambur meminta perwakilan dari tiap-tiap desa untuk memasak di dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan pengungsi secara bergiliran. Jika hari ini giliran perwakilan pengungsi dari Desa Gurukinayan, besok giliran pengungsi dari Desa Sigarang-garang, dan begitu seterusnya.

Mendatangi satu per satu tempat pengungsian terasa benar modal sosial, berupa gotong royong, hadir di sana. Warga tanpa pamrih menolong pengungsi. Pengungsi dan warga sekitar tempat pengungsian berinteraksi layaknya saudara sendiri. Kalaupun muncul konflik, hanya konflik kecil yang segera selesai ketika tetua adat atau koordinator pengungsi memberi pengertian.

Warga tergerak saat melihat warga lain dalam kesulitan. Sebelum Pemerintah Kabupaten Karo membentuk tim penanganan pengungsi, altruisme wargalah yang membuat pengungsi merasa diterima, diperhatikan, dilindungi, dan diperlakukan bagai saudara. (Mohammad Hilmi Faiq)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau