Belasan remaja membagikan makan siang kepada para pengungsi di pengungsian Jambur Lige, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (31/8). Di dapur umum, puluhan warga laki-laki dan perempuan sibuk menata nasi dan lauk-pauk. Sesekali
Mereka adalah warga Kecamatan Berastagi dan Kabanjahe yang secara sukarela membantu para pengungsi. Kecamatan Kabanjahe dan Berastagi merupakan pusat konsentrasi pengungsi yang saat ini berjumlah 24.111 jiwa. Para pengungsi datang dari sedikitnya 26 desa di kaki Gunung Sinabung. Para pengungsi tersebar di 22 tempat pengungsian, terutama jambur-jambur.
Di tempat pengungsian, warga dari beberapa desa di Kecamatan Kabanjahe dan Berastagi mendatangi jambur-jambur tanpa diminta untuk membantu. Mereka tidak hanya membantu tenaga, tetapi juga berbagi logistik, seperti beras, mi, selimut, dan air mineral.
”Awalnya hanya 40 orang. Sekarang sudah ada 100 orang yang membantu para pengungsi. Saya hanya mengoordinasi karena mereka datang sendiri,” kata Naksir Purba (51), tetua adat sekaligus Ketua Pengelola Jambur Taras, Kecamatan
Sebanyak 2.350 pengungsi dari 23 desa berlindung di Jambur Taras dengan membawa bekal seadanya. Bahkan, tidak sedikit yang mengungsi hanya dengan baju di badan karena panik saat Gunung Sinabung meletus. Naksir dan warga desa setempat yang menyiapkan tikar, selimut, listrik, dan makanan bagi pengungsi. Mereka mengorganisasi diri secara spontan dikoordinasi tetua adat.
Para pengungsi datang dari desa-desa yang berjarak 20-24 kilometer dari Berastagi. Pengurus Jambur Taras hanya mengenal beberapa pengungsi, tetapi mereka menyambut para pengungsi bak menyambut sanak saudara sendiri.
Sukarelawan di Jambur Taras, Bela Bangun (61), menyampaikan pesan bahwa para pengungsi dianggap saudara sendiri.
”Siapa yang tega melihat ribuan orang panik, ketakutan, kehujanan, dan kelaparan, sementara di rumah kami masih cukup makanan,” katanya.
Bela tergerak dan menghubungi sanak saudaranya di Berastagi untuk membagikan beras, mi, dan bahan makanan lain untuk para pengungsi. Hal serupa dilakukan puluhan warga lain.
Warga yang tidak bisa menyumbang bahan makanan akan membantu dengan tenaga. ”Saya tidak bisa menyumbang uang atau makanan. Saya melihat tenaga saya dibutuhkan, maka saya membantu para pengungsi,” kata Caterine Ginting (14), tenaga sukarela di Jambur Lige yang menampung 2.500 pengungsi.
Di Jambur Adil Makmur, para tenaga sukarela bekerja dengan pola sehari kerja sehari libur. Warga, guru, dan mahasiswa terlibat di sana.
Siang-malam para pekerja sukarela berjibaku menolong pengungsi. Pemuka agama dan aktivis gereja membantu meringankan beban pikiran pengungsi, terutama anak-anak, dengan lagu-lagu rohani.
Di Jambur Taras, pengorganisasian warga berjalan rapi. Pada hari pertama pengungsian, Sabtu (28/8), sampai hari ketiga, semua urusan konsumsi dan keperluan warga ditangani pengurus jambur.
Memasuki hari keempat, saat kondisi gunung dan gelombang pengungsi stabil, para pengungsi mulai dilibatkan untuk mengurus diri mereka. Pengurus jambur meminta perwakilan dari
Mendatangi satu per satu tempat pengungsian terasa benar modal sosial, berupa gotong royong, hadir di sana. Warga tanpa pamrih menolong pengungsi. Pengungsi dan warga sekitar tempat pengungsian berinteraksi layaknya saudara sendiri. Kalaupun muncul konflik, hanya konflik kecil yang segera selesai ketika tetua adat atau koordinator pengungsi memberi pengertian.
Warga tergerak saat melihat warga lain dalam kesulitan. Sebelum Pemerintah Kabupaten Karo membentuk tim penanganan pengungsi, altruisme wargalah yang membuat pengungsi merasa diterima, diperhatikan, dilindungi, dan diperlakukan bagai saudara.