Jalintim Belum Mulus

Kompas.com - 01/09/2010, 03:47 WIB

Musi Banyuasin, Kompas - Pemudik yang ingin melintasi jalan lintas timur dari Palembang ke Jambi perlu mewaspadai kerusakan di perbatasan Sumsel-Jambi, tepatnya di ruas Peninggalan menuju Bayung Lencir. Di sana masih beroperasi sejumlah alat berat yang sedang memperbaiki jalan.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Selasa (31/8), kerusakan jalan ini terjadi di Kilometer 163, tepatnya di Kecamatan Peninggalan, memasuki kawasan perbatasan Jambi. Kerusakan jalan sepanjang 200 meter itu terjadi karena sisi kiri bahu jalan longsor dan ambles. Kini, petugas sedang memperbaiki kerusakan jalan dengan mengerahkan dua alat berat jenis ekskavator dan silinder.

Menurut Herman (32), salah seorang mandor proyek, proyek perbaikan jalan ini ditargetkan selesai pada tujuh hari menjelang Lebaran atau Jumat (3/9). Selama ini perbaikan jalan tersebut terkendala masih tingginya curah hujan selama Juli-Agustus 2010.

”Awalnya kami mengira pada bulan Juli-Agustus ini hujan tidak akan turun lagi. Karena itu, kami mendapat lampu hijau dari Kementerian Pekerjaan Umum untuk memulai proyek perbaikan. Namun, ternyata perkiraan ini meleset mengingat sampai sekarang hujan kerap kali turun,” kata Herman.

Guyuran air hujan ini, menurut dia, membuat ruas jalan yang ambles sulit diperbaiki. Hal itu terjadi karena aspal dan batu yang sudah disusun di bawah fondasi tidak cepat mengering.

Meski demikian, para pemudik yang melintasi jalintim Palembang-Jambi atau sebaliknya tak perlu khawatir soal kondisi jalan sebab sebagian besar ruas jalan dalam kondisi mulus. Masalah krusial yang terjadi adalah kemacetan lalu lintas akibat tujuh titik pasar tumpah yang tersebar di sepanjang jalintim tersebut.

Jalan nasional

Untuk peningkatan status jalan ruas Manna, Bengkulu Selatan-Tanjung Sakti, Sumsel, menjadi jalan nasional membutuhkan dana sebesar Rp 150 miliar.

Dana sebesar itu di luar pembebasan ganti rugi lahan sepanjang 40 kilometer yang merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan.

Menurut Kepala Satuan Kerja (Satker) Perencanaan Jalan Nasional Bengkulu Zakaria, Selasa (31/8), poros jalan Manna-Tanjung sakti layak ditingkatkan jadi jalan nasional karena selain sebagai jalan alternatif antarprovinsi, juga lalu lintas di ruas ini tiap hari sudah cukup padat. Pada musim hujan terdapat puluhan titik rawan longsor yang sering membuat macet arus lalu lintas.

Usulan peningkatan status jalan itu sudah diprogramkan beberapa tahun lalu, tetapi masih menunggu proses pembebasan lahan dari Pemkab Bengkulu Selatan.

Lahan yang akan dibebaskan sesuai standar jalan nasional minimal, yakni harus memiliki lebar 20 meter sebab badan jalan dibutuhkan lebar 15 meter.

Dengan lebar 15 meter, perjalanan bisa ditempuh kendaraan dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.

”Kami menunggu kesiapan Pemkab Bengkulu Selatan untuk membebaskan lahan, baru dibuat desain standar jalan nasional,” kata Zakaria.

Menurut Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Fauzan Rahim, rencana peningkatan status jalan Manna-Tanjung Sakti itu sudah diusulkan ke pusat.

Kementerian Pekerjaan Umum sudah menurunkan tim ahli melihat langsung keberadaan jalan, selanjutnya akan dibuatkan desain jalur baru yang akan dipakai nanti. Kini, sekitar 20 km dari 40 km jalan itu dalam kondisi rusak parah akibat digenangi air. (antara/oni)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau