Angkutan lebaran

Pemudik Mulai Padati Angkutan Laut

Kompas.com - 02/09/2010, 03:49 WIB

Pontianak, Kompas - Ribuan pemudik terlihat mulai memadati angkutan laut, Rabu (1/9) atau 9 hari menjelang Lebaran. Kondisi ini antara lain terpantau dari Pelabuhan Pontianak, Makassar, dan Banjarmasin.

Dari Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat, dilaporkan, tingkat keterisian kapal menuju Surabaya rata-rata 95 persen. ”Kapal Bukit Raya tujuan Surabaya berangkat dengan 1.470 penumpang, atau setara 96,84 persen kapasitas kursi,” kata Huzaini, Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut Administratur, Pelabuhan Pontianak, kemarin.

Kapal Prima Vista tujuan Semarang mengangkut sebanyak 370 penumpang, atau setara dengan 99,76 persen kapasitas angkutnya. Padahal, biasanya, kapal dari Pontianak ke Jawa hanya terisi 50-60 persen.

Untuk membantu kelancaran arus penumpang dari Kalimantan Barat dan Tengah, Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama Bambang Harjo berjanji menyiapkan Kapal Dharma Kencana IX yang seharusnya dicadangkan di Merak-Bakauheni.

Peningkatan penumpang juga terpantau di Pelabuhan Soekarno-Hatta (Makassar, Sulawesi Selatan). Biasanya, kapal hanya terisi 26-50 persen, tetapi kini kapal berkapasitas 1.500-2.000 orang itu terisi 100 persen, khususnya rute Makassar-Bima, Makassar- Ambon, dan Makassar-Baubau.

Syahbandar Pelabuhan Makassar Afrianus Tapalang mengatakan, terjadi anomali pada angkutan mudik laut tahun ini. ”Berdasarkan evaluasi tahun 2009, kenaikan penumpang diperkirakan sejak H-15, tetapi tahun ini baru pada H-9,” katanya.

Dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, dilaporkan, mulai terlihat gelombang kedatangan pemudik. Dalam sepekan, sejak Kamis lalu hingga kemarin, tercatat 16.506 pemudik turun di Tanjung Perak.

Kementerian Perhubungan berjanji menyiapkan 719 unit kapal dengan kapasitas total 3,07 juta orang. Kapasitas tersebut lebih besar dari prediksi penumpang angkutan laut tahun 2010 sebanyak 1,24 juta orang.

”Kami berharap masyarakat naik kapal saat tak padat sehingga tak terjadi penumpukan,” kata Bambang Harjo. Ia menegaskan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tidak memperbolehkan kapal masuk dok pada H-15 hingga H+15 sehingga seharusnya kapasitas kapal mencukupi.

Angkutan motor

Direktur Utama PT Pelni Jussabella Sahea, pekan lalu, mengatakan, tahun ini, untuk pertama kalinya menugaskan KM Ganda Dewata mengangkut 1.000 orang dan 1.000 sepeda motor.

Dimuat di Pelabuhan Tanjung Priok, sepeda motor itu kemudian dilayarkan ke Pelabuhan Tanjung Mas (Semarang, Jawa Tengah) dan Tanjung Perak. Ini untuk mengurai kepadatan motor di jalan pantai utara Jawa.

KM Ganda Dewata dilayarkan dari Tanjung Priok pada Selasa mendatang, tiba di Pelabuhan Tanjung Emas keesokan harinya, dan kemudian tiba di Surabaya pada hari Kamis.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Luthfi Syarieh mengatakan, 100 kapal penyeberangan antarpulau telah siap beroperasi untuk mudik Lebaran.

Masa angkutan Lebaran feri diperkirakan dari H-7 sampai H+7, puncak arus pada H-2 dan H+2. ”Pada puncak arus mudik, penyeberangan di Merak naik jadi 70.000 orang dari 30.000 orang pada hari biasa,” katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan jalur pelayaran mudik, terutama melalui Laut Jawa, aman. Ketinggian gelombang pada pelayaran mudik, 4-7 September 2010, normal.

Forecaster Maritim BMKG, Hasneni, mengatakan, ketinggian gelombang laut pada 4 September adalah 1-2 meter. Adapun pada 5-7 September ketinggian gelombang 0,7 meter-1,3 meter. (AHA/WER/RIZ/IRE/APO/ABK/HEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau