Gedung dpr

Gedung Baru untuk Siapa?

Kompas.com - 03/09/2010, 15:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pembangunan gedung baru yang dikawal Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR terus mendapatkan tentangan. Pimpinan sejumlah fraksi secara terang-terangan menolak pembangunan gedung karena dianggap terlalu mewah.

Gedung berbentuk gerbang dengan 36 lantai itu setidaknya akan menyedot anggaran negara tak kurang dari Rp 1,6 triliun. Dana triliunan itu akan dikucurkan secara bertahap selama tiga tahun.

Pada APBN 2010 ini, uang negara dianggarkan sebesar Rp 250 miliar. Pembangunan pun dijadwalkan akan dimulai Oktober mendatang. Jika para anggota Dewan sendiri menolak, lalu untuk siapa pembangunan gedung mewah itu?

Pemimpin Fraksi Partai Hanura Syarifuddin Suding mengatakan, anggaran Rp 1,6 triliun terlalu besar. Pengucuran dana sebesar ini dinilai kontra dengan kondisi rakyat yang sebagian besar masih di bawah garis kemiskinan.

"Anggaran Rp 1,6 triliun lebih layak dialokasikan ke daerah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kalau dilanjutkan, kita malu. Kondisi rakyat saja miris, mereka masih berebut sembako dan lain-lain," kata Syarifuddin dalam diskusi di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (3/9/2010).

Oleh karena itu, dengan beberapa alasan, Fraksi Hanura menolak pembangunan gedung tersebut. Alasan yang diajukan Suding di antaranya kebutuhan akan gedung baru tidak mendesak dan Gedung Nusantara I tempat anggota berkantor dianggap masih layak.

"Hanya Sekjen perlu penataan pembagian ruangan. Jangan satu anggota punya 2-3 ruangan. Sehingga yang lain tidak dapat fasilitas. Ada ruangan-ruangan yang tidak digunakan secara efektif," katanya.

Tak hanya Hanura. Fraksi Partai Gerindra, melalui anggotanya, Edi Prabowo, juga menolak pembangunan gedung baru secara berlebihan. Ia mengakui, kebutuhan anggota Dewan akan tambahan staf ahli yang berimplikasi pada meningkatnya keebutuhan ruangan.

Namun, alokasi ruangan anggota Dewan yang mencapai 120 meter persegi dinilai terlalu luas. "Kami menolak karena luasan fasilitasnya terlalu mewah," kata Edi.

Ia kemudian merinci, untuk gedung baru yang dibangun di atas lahan seluas 157.000 meter persegi dan anggaran Rp 1,6 triliun, setidaknya setiap ruangan anggota Dewan menghabiskan Rp 2,5 miliar.

"Ini terlalu besar. Cukup dibangun di lahan 70.000 meter persegi dengan nilai tanah per meter sesuai peraturan daerah Rp 7,5 juta, maka harusnya tidak sampai Rp 500 miliar," ujarnya.

Fraksi Partai Gerindra pun meminta agar rencana ini dikaji ulang, terutama mengenai luas bangunan, anggaran, dan fasilitas.

Sementara itu, anggota BURT DPR asal Fraksi PPP, M Arwani Thomafi, menyatakan heran dengan penolakan yang dilancarkan sejumlah fraksi.

Menurutnya, dalam rapat internal BURT tak ada penolakan. Mereka yang duduk di BURT merupakan anggota fraksi yang, menurutnya, merupakan kepanjangan tangan fraksi.

"Kami heran, kenapa setelah bergulir, di luar ramai-ramai menolak. Padahal, saat rapat internal tidak ada yang menolak. Apakah karena sudah banyak yang menolak, maka ikut-ikutan menolak," kata dia.

Arwani memastikan, gedung baru yang akan dibangun sesuai dengan peruntukan gedung parlemen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau