Isu reshuffle

Golkar Tidak Khawatir

Kompas.com - 10/09/2010, 13:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan partainya tidak khawatir dengan rencana reshuffle kabinet yang kabarnya akan dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini disampaikannya usai bersilaturahim dengan Presiden Yudhoyono dan keluarga di Istana Negara, Jumat (10/9/2010).

"Kita tidak khawatir terjadinya reshufle karena akan ditanyakan dulu kepada partai yang bersangkutan," ungkapnya.

Menurut pria yang akrab disapai Ical ini, reshuffle merupakan hak Presiden karena penilaian terhadap menteri dilakukan pula oleh Presiden yang telah memilih menteri sejak awal. Mereka yang kinerjanya tidak memuaskan tentu berpotensi untuk di-reshuffle. Koalisi, lanjutnya, tak dapat berbuat banyak.

Hanya saja, Ia mengatakan, berdasarkan kontrak koalisi, calon pengganti menteri yang di-reshuffle juga berasal dari partai yang sama. Jadi tak mungkin Setgab akan pecah. "Pecah kenapa? Kan diganti sama partainya sendiri," tegasnya.

Ical sendiri mengaku belum tahu-menahu soal reshuffle kabinet ini. Sebagai Ketua Harian Sekretariat Gabungan, dia pun membantah pernah membicarakan reshufle dengan Presiden Yudhoyono. Ia menyerahkan penuh kepada Presiden. "Kalau Presiden mau bikin (reshuffle), mana bisa kita bilang enggak setuju," tandasnya.

Awal pekan ini, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok mengatakan, Presiden Yudhoyono akan melakukanl reshuffle dalam waktu dekat. Menurutnya, berdasarkan pengalaman sebelumnya, Presiden melakukan reshuffle setelah satu tahun. Masa satu tahun Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II jatuh pada bulan Oktober nanti.

"Waktu Kabinet Indonesia Bersatu I, Yudhoyono dua kali melakukan reshuffle. Jadi, bukan hal yang tabu bagi Presiden untuk mengganti pembantunya," kata Mubarok, Senin (6/9/2010).

Partai Golkar sendiri mendapat jatah tiga pos menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yaitu Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau