Tuna netra tewas

Sebelum Tewas, Joni Sempat Minta Minum

Kompas.com - 10/09/2010, 21:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Joni Malela, tuna netra yang meninggal akibat berdesakan di depan Istana saat antri silaturahim dengan presiden, sempat minta air minum karena kehausan.

"Saat dia roboh, kami mengangkatnya lalu merebahkan dia. Korban haus dan minta air. Setelah minum, tak lama kemudian badannya dingin. Dia lalu dibawa ambulans," kata Wahiman, saksi yang ikut memberikan pertolongan pertama kepada korban.

Wahiman, yang tak mengenal Joni, ikut memberikan keterangan di Polsek Metro Gambir bersama istri korban.

Sementara itu Euis Rusmiyati (38) istri korban, mengatakan mereka berdua tinggal di Ciputat.

"Kami berangkat ke istana diajak kelompok pengajian Sasana Kebajikan. Ada delapan tuna netra dan sebelum ke istana kumpul dulu di mushala Cirendeu," kata Euis di RSCM.

Tahun lalu mereka berdua juga datang ke open house di istana dan saat itu pengaturannya lebih baik dan mereka diberi tempat duduk sebelum silaturahim.

Euis mengemukakan jumlah santunan atas musibah yang mereka alami mencapai Rp 40 juta. "Tapi saya tak pegang uang itu," katanya.

Sekitar pukul 20.30 WIB, Euis dengan ambulans berisi jenazah suaminya meluncur ke Garut, kampung halaman mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau