Suzuki Skydrive Stabil berkat "Engine Stabilizer"

Kompas.com - 13/09/2010, 08:05 WIB

KOMPAS.COM - Modifikasi skutik beraliran low rider lebih didominasi dua merek, Honda dan Yamaha. Untuk merek lain, seperti Suzuki sangat terhitung dengan jari. Apalagi pengalaman menyebutkan jika merek ini sangat kurang stabil jika dipanjangkan sumbu rodanya lantaran model undur-undurnya beda.

Faktor inilah yang membuat Hendri Chopper dari Roda Jaya Motor (RJM) di Malang, Jawa Timur merasa tertantang untuk memodifikasi Suzuki Skydrive 2009. Apalagi penggunaan undur-undur sampai 30 cm, " Pasti rasanya sangat tidak stabil," cerita Hendri.

Solusinya, Hendri menambahkan semacam engine stabilizer dengan mengandalkan sokbreker variasi yang aslinya buiat Yamaha Mio. "Karena itu, jika dilihat sepintas dari belakang seperti ada dua sokbreker. Padahal, yang berfungsi sebagai peredam kejut suspensi hanya 1 sokbreker," tergas rpia 30 tahun ini.

Stabilizer tadi, bagian bawahnya dibautkan ke undur-undur dan bagian atasnya di las ke rangka. Jadi, walau meswin mundur jauh, katanya, at belok tetap stabil. "Ini merupakan jurus yang bisa dibanggkan dan harus dipamerkan.

Meski membuat bodi kit cukup lebar di samping, tujuannya untuk menonjolkan stabilizer tadi. Jika terlindung oleh bodi, kata Hendri, tak ada serunya. Bodi kit yang terbuat dari bahan fiber itu diberi motif berlubang untuk menonjolkan stabilizer tersebut.

Untuk seluruh bodi mengandalkan bahan fiber dan hanya menyisakan lampu depan- belakang yang masih orisinal. Untuk aliran low rider ada dua genre, yakni finshing dan tampilan. Hendri pilih yang terakhir, dengan alasan, selain jaran dimodifikasi seperti ini, masih dikenali aslinya. (Nurfil)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau