Pakistan

Musharraf Bikin Partai Baru

Kompas.com - 15/09/2010, 11:12 WIB

HONG KONG, KOMPAS.com - Mantan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, Rabu (15/9), mengatakan, ia akan meluncurkan partai baru pada 1 Oktober. Jenderal purnawirawan itu berencana untuk kembali ke panggung politik di negara yang bergolak tersebut.

Musharraf juga menuduh Presiden Afganistan, Hamid Karzai, kekurangan legitimasi dan mendesak pihak Barat untuk tetap melawan Taliban dan tidak meninggalkan negara yang berkecamuk perang itu.

"Saya akan mendeklarasikan sebuah partai pada tanggal 1 Oktober. Kami harus mewujudkan budaya politik baru di Pakistan," katanya kepada wartawan di Hong Kong setelah berbicara pada sebuah forum investor tahunan yang diselenggarakan oleh broker CLSA.

Musharraf (67 tahun), yang tinggal di pengasingan di London, mengabaikan ancaman terhadap tindakan hukum yang mungkin menimpanya terkait kebijakannya selama bertahun-tahun pemerintahan militernya di Pakistan. "Ada unsur-unsur yang menentang saya, unsur-unsur politik, dan mereka adalah orang-orang yang merekayasa kasus-kasus itu. Saya sangat yakin, tidak ada yang terjadi (dalam rencana kepulangan tersebut)," katanya.

Musharraf, yang berencana untuk maju pada pemilihan umum parlemen berikutnya pada tahun 2013, tidak mengatakan di mana ia akan meluncurkan partai barunya, tapi laporan di Pakistan mengatakan acara pada 1 Oktober itu akan berlangsung di London.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pekan lalu, Musharraf berjanji untuk memulihkan harga diri Pakistan dan berkata, dia pikir dia bisa menjadi presiden lagi. Sebagai panglima militer, Musharraf menggulingkan pemerintahan sipil dalam kudeta tak berdarah tahun 1999. Dia menjadi presiden dari tahun 2001 dan telah tinggal di luar negeri sejak mengundurkan diri tahun 2008.

Setelah itu Pakistan kembali di bawah pemerintahan sipil, tetapi Presiden Asif Ali Zardari - duda dari mantan perdana menteri Benazir Bhutto yang yang dibunuh- berada di bawah pengepungan militan yang merajalela, ekonomi yang lemah dan bencana banjir. Zardari dan putra Bhutto, Bilawal yang berusia 21 tahun, sedang mempersiapkan karir politiknya sendiri.

Namun Musharraf mengatakan, "Saya benar-benar menentang sistem ini, di mana sebuah keluarga dominan dalam semua partai politik. Esensi demokrasi tidak ada di Pakistan," katanya.

Setelah serangan 11 September 2001, Musharraf membuat Pakistan menjadi sekutu kunci AS dalam perang melawan teror, tetapi menghadapi kebangkitan militansi Islam di wilayah kesukuan dekat Afghanistan. Musharraf memiliki hubungan suram dengan Karzai, yang kembali merebut kekuasaan tahun lalu dalam suatu pemilihan yang secara luas dicela sebagai kecurangan.

"Harus ada pemerintahan yang sah di Afganistan. Dia tidak memiliki legitimasi itu," kata Musharraf.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau