HONG KONG, KOMPAS.com - Mantan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, Rabu (15/9), mengatakan, ia akan meluncurkan partai baru pada 1 Oktober. Jenderal purnawirawan itu berencana untuk kembali ke panggung politik di negara yang bergolak tersebut.
Musharraf juga menuduh Presiden Afganistan, Hamid Karzai, kekurangan legitimasi dan mendesak pihak Barat untuk tetap melawan Taliban dan tidak meninggalkan negara yang berkecamuk perang itu.
"Saya akan mendeklarasikan sebuah partai pada tanggal 1 Oktober. Kami harus mewujudkan budaya politik baru di Pakistan," katanya kepada wartawan di Hong Kong setelah berbicara pada sebuah forum investor tahunan yang diselenggarakan oleh broker CLSA.
Musharraf (67 tahun), yang tinggal di pengasingan di London, mengabaikan ancaman terhadap tindakan hukum yang mungkin menimpanya terkait kebijakannya selama bertahun-tahun pemerintahan militernya di Pakistan. "Ada unsur-unsur yang menentang saya, unsur-unsur politik, dan mereka adalah orang-orang yang merekayasa kasus-kasus itu. Saya sangat yakin, tidak ada yang terjadi (dalam rencana kepulangan tersebut)," katanya.
Musharraf, yang berencana untuk maju pada pemilihan umum parlemen berikutnya pada tahun 2013, tidak mengatakan di mana ia akan meluncurkan partai barunya, tapi laporan di Pakistan mengatakan acara pada 1 Oktober itu akan berlangsung di London.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC pekan lalu, Musharraf berjanji untuk memulihkan harga diri Pakistan dan berkata, dia pikir dia bisa menjadi presiden lagi. Sebagai panglima militer, Musharraf menggulingkan pemerintahan sipil dalam kudeta tak berdarah tahun 1999. Dia menjadi presiden dari tahun 2001 dan telah tinggal di luar negeri sejak mengundurkan diri tahun 2008.
Setelah itu Pakistan kembali di bawah pemerintahan sipil, tetapi Presiden Asif Ali Zardari - duda dari mantan perdana menteri Benazir Bhutto yang yang dibunuh- berada di bawah pengepungan militan yang merajalela, ekonomi yang lemah dan bencana banjir. Zardari dan putra Bhutto, Bilawal yang berusia 21 tahun, sedang mempersiapkan karir politiknya sendiri.
Namun Musharraf mengatakan, "Saya benar-benar menentang sistem ini, di mana sebuah keluarga dominan dalam semua partai politik. Esensi demokrasi tidak ada di Pakistan," katanya.
Setelah serangan 11 September 2001, Musharraf membuat Pakistan menjadi sekutu kunci AS dalam perang melawan teror, tetapi menghadapi kebangkitan militansi Islam di wilayah kesukuan dekat Afghanistan. Musharraf memiliki hubungan suram dengan Karzai, yang kembali merebut kekuasaan tahun lalu dalam suatu pemilihan yang secara luas dicela sebagai kecurangan.
"Harus ada pemerintahan yang sah di Afganistan. Dia tidak memiliki legitimasi itu," kata Musharraf.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang