Banjir bintaro

Pemerintah Lamban Antisipasi Banjir

Kompas.com - 15/09/2010, 22:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua RT 1 RW 12 Jalan Madrasah, Bintaro, Jakarta Selatan, Samsul Ridwan menyesalkan sikap pemerintah yang sangat lamban mengantisipasi terjadinya banjir di wilayahnya. Pasalnya, dalam satu bulan terakhir ini sudah dua kali dialami oleh warganya.

"Memang kondisi tanggul sudah direnovasi. Pemerintah sendiri memang berupaya dengan mengisi pasir untuk menanggulangi. Tapi kalau cuma pasir, ya tidak kuat. Beton saja jebol. Masa sih pemerintah tidak ada dana taktis untuk merenovasi tanggul?" kata Samsul Ridwan saat ditemui di kediamannya, Rabu (15/9/2010).

Ia menyesalkan prosedur pemerintah yang hanya untuk merenovasi tanggul harus memakai mekanisme lelang.

"Saya dengar masih lelang. Kapan selesainya? Keburu banjir lagi," tandasnya.

Sementara bencana banjir yang saat ini sedang melanda di wilayah ini mengakibatkan 110 KK harus diungsikan ke aula masjid di wilayah tersebut.

"Untuk banjir yang sekarang sedikitnya 110 KK menjadi korban banjir dan 70 rumah terendam banjir," kata Samsul.

Sejauh ini, pihaknya telah mendapat bantuan dari Kelurahan Bintaro, Palang Merah Indonesia, Dompet Duafa, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan Kecamatan Pesanggrahan.

"Bahkan Dompet Duafa bangun dapur umum di sini. Nasi bungkus juga ada serta obat-obatan," tambah Samsul. (Tribunnews/Iwan Taunuzi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau