Calon pemimpin kpk

Pesan Presiden untuk Bambang dan Busyro

Kompas.com - 17/09/2010, 02:55 WIB

Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan kedua calon ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, yakni Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto, agar dapat memulai agenda aksi pemberantasan korupsi dari diri mereka sendiri apabila terpilih nanti.

Calon yang terpilih diharapkan benar-benar dapat menjaga diri dan jangan sampai ternoda oleh hal-hal apa pun yang bisa mengganggu integritas dan kredibilitas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pesan Presiden Yudhoyono itu disampaikan Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto dalam keterangan pers seusai bertemu Presiden di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/9). Dalam catatan Kompas, inilah pertama kalinya calon ketua KPK sebelum diseleksi DPR diundang Presiden ke kantornya.

Keduanya diundang Presiden Yudhoyono sebagai kepala negara, kemarin. Dalam pertemuan lebih kurang satu jam, Presiden Yudhoyono didampingi antara lain Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto serta Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Presiden Yudhoyono tampak ceria saat menerima kedua calon ketua KPK itu. Bahkan, Presiden terlihat mengacungkan dua jempolnya kepada kedua calon ketua KPK saat juru foto akan mengabadikan gambarnya.

”Harapan Presiden, supaya siapa pun yang terpilih dapat memulainya dari diri sendiri. Jaga diri dan jangan sampai ternoda,” ujar Busyro yang diberikan kesempatan pertama berbicara oleh Bambang Widjojanto. Keduanya sempat saling tunjuk untuk mempersilakan berbicara kepada pers setelah pengantar dari Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha.

Menurut Busyro, harapan kedua Presiden adalah agar calon terpilih memiliki kearifan bertindak. ”Artinya, tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja,” lanjutnya.

”Harapan berikutnya, calon yang terpilih tidak memiliki perbenturan kepentingan di KPK,” lanjut Busyro. Menanggapi harapan Presiden, Busyro menyatakan, ”Tentu saja saya dan Mas Bambang memahami, merasakan, dan menerima dengan baik karena memang seperti itu hal yang harus disandang siapa pun yang memimpin KPK.”

Soal pola kerja yang akan diterapkan, Busyro mengatakan, pihaknya mengutamakan pendekatan sistem, memperkuat sinergitas dengan lembaga hukum lain, seperti kepolisian, kejaksaan, dan BPK. ”Bambang tadi menambahkan kerja sama dengan inspektur-inspektur jenderal kementerian,” paparnya.

Bambang Widjojanto tidak banyak bicara saat itu. ”Karena 99 persen sama dengan penjelasan Pak Busyro. Saya hanya menambahkan 1 persennya saja, yaitu pejabat yang mendampingi Presiden,” ujarnya.

Tepis mendapat titipan

Sementara itu, Busyro menepis bahwa kedatangannya bisa memengaruhi independensinya jika terpilih.

”Kami datang dengan leluasa. Tidak ada beban sama sekali. Oleh sebab itu, tidak ada kaitannya dengan titipan-titipan. Dan, kami juga merasa tidak dititipi. Jangan khawatir,” kata Busyro.

(HAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau