Saat menjejak kawasan Xintiandi di Distrik Luwan, Shanghai, China, kita diingatkan pada kawasan Pasar Seni Jaya Ancol di Jakarta Utara, atau kawasan Kemang di Jakarta Selatan, atau kawasan Jalan Jaksa di Jakarta Pusat. Yang beda, kompleks kedai minum, restoran, butik, galeri seni dan kerajinan seluas 30.000 meter persegi ini dibangun dengan konsep menyeluruh yang jelas. Menampilkan kehidupan kaum bohemian di Shanghai tahun 1920-an. Sedikit ”berbau” Perancis.
Xintiandi yang berarti Bumi dan Surga Baru ini dibangun tahun 1990-an oleh Perusahaan Property Shui On, Hongkong, bekerja sama dengan Pemerintah Distrik Luwan dengan investasi senilai 50 juta dollar AS.
Di Shanghai, tempat ini paling populer sebagai tempat gaul para pencinta dan pekerja seni, serta kalangan kelas menengah ke atas terdidik, yang memilih hidup lebih tenang dan sederhana.
Arsitektur bangunannya paduan arsitektur tradisional Shanghai, Hai Pai, dan Barat masa lalu. Paduan arsitekturnya disebut arsitektur bergaya Shi Ku Men.
Gang-gang, saluran-saluran air, taman, sampai ke lampu-lampu jalanan tertata apik dan tertib ala tahun 1920-an.
Xintiandi cuma bagian kecil Shanghai, sebuah kota yang memadukan kecantikan masa lalu dan modernitas saat ini. Shanghai yang dibelah Sungai Huangpu terdiri dari dua wilayah utama, yakni Puxi di barat sungai dan Pudong di timur sungai.
Kawasan Pudong mewakili modernitas, sedangkan kawasan Puxi yang lebih luas lebih mewakili kecantikan masa lalu meski juga diwarnai modernitas. Kecantikan dan modernitas itu bertemu di tepian Sungai Huangpu di kawasan Bund, Puxi, dan kawasan segitiga Lujiazui di Pudong (lihat peta).
Di Lujiazui antara lain berdiri tiga bangunan tinggi simbol modernitas Shanghai. Menara Televisi Mutiara Oriental, Pencakar Langit Jinmao, dan Pencakar Langit The Shanghai World Financial Center (SWSC).
Menara televisi selesai dibangun tahun 1994 dengan tinggi 468 meter. Bentuknya yang futuristik membuat menara ini landmark Shanghai. Selain hotel mewah berkamar 250, di menara ini juga ada puluhan karaoke, restoran, dan ruang-ruang pertemuan mewah.
Menara SWSC adalah menara tertinggi di dunia yang terdiri dari 101 lantai dengan tinggi 492 meter. Menara yang dijuluki menara tutup botol oleh warga Shanghai ini, antara lain menjadi markas Shanghai Stock Exchange (pasar modal).
Bersebelahan dengan menara tutup botol itu, berdiri megah Menara Jinmao setinggi 420 meter. Selain bentuknya yang bagus, menara ini terkenal karena memiliki dua lift yang mampu membawa para pengunjungnya dari bawah sampai ujung hanya dalam waktu 45 detik.
Jinmao memiliki bar terbesar di dunia, Cloud 9, yang berada di lantai 87.
Di sisi Puxi di tepian Sungai Huangpu, tampak kawasan rekreasi Bund sepanjang sekitar satu kilometer. Deretan bangunan tua peninggalan Inggris di Jalan Zhongshan tampak mulai bermandikan cahaya saat jam di menara Gedung Pajak Shanghai berdentang enam kali menandai pukul 18.00. Menara jam diapit Gedung Bank Pembangunan Pudong Shanghai di sisi kiri, dan Gedung Serikat Pekerja Federasi Shanghai di sisi kanan.
Di sebelah gedung serikat pekerja berdiri Gedung Sistem Perdagangan Valuta Asing, Gedung cabang Bank Pedagang China, Gedung AIA, Gedung Chunjiang, dua Hotel Peace, Kantor Cabang Bank China, serta Gedung Bank Komersial dan Industri China.
Ingin mengunjungi kawasan lebih lawas dari kawasan Bund? Bisa ke Taman Basar Garden di selatan Kawasan Bund. Taman ini dibangun tahun 1559. Hampir seluruh bangunan yang berdiri di kawasan ini masih berarsitektur era Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Di sini, wisatawan berbelanja oleh-oleh, mencicipi berbagai makanan dan penganan tradisional.
Puxi dan Pudong ditaburi galeri-galeri seni yang membuat Shanghai tampak ”lebih berkebudayaan dan hangat” di balik hiruk-pikuk kegiatan ekonominya yang luar biasa.
Di Jalan Moganshan dibuka galeri seni kontemporer pertama di China. Galeri ini dibuka tahun 1996. Mengoleksi karya lukis dan foto garda depan (avant garde). Di Jalan Shaoxing berdiri galeri seni abstrak, sedangkan di Jalan Zhongshan di kawasan Bund berdiri Galeri Seni Shanghai.
Meski dua hari terakhir pekan lalu Shanghai diguyur hujan deras, tak ada genangan di jalan raya atau banjir yang menggenangi kota-kota tua, jaringan kereta dan jalan raya bawah tanah, atau taman-taman kota yang terawat indah.
Kondisi ini tentu saja berbeda dengan Jakarta. Padahal, jika mau bekerja keras dan berani bertangan besi soal ketertiban, Jakarta bisa sebaik Shanghai, bahkan bisa lebih indah.
Peluang membuat kawasan kota lama dari Sunda Kelapa menuju Kali Besar, Roa Malaka, Taman Fatahilah, sampai Stasiun Kota, bahkan sampai kawasan Tubagus Angke di sekitar Jalan Perniagaan Raya menjadi lebih eksotik ketimbang kawasan Bund, masih terbuka lebar. Demikian pula kawasan Menteng dan Kemang yang bisa menjadi lebih menarik ketimbang kawasan Xintiandi bila konsep kawasannya jelas secara menyeluruh.
Sayang, peluang itu kian menjauh saat pemilik bangunan tua di Kali Besar yang sebagian besar berasal dari kalangan badan usaha milik negara justru terlikuidasi. Bangunan-bangunan menjadi kosong, compang- camping tak terawat. Sementara pemilik bangunan tua perorangan lebih suka diam-diam merobohkan bangunan mereka dan menggantinya dengan bangunan berarsitektur baru karena lebih menguntungkan.
Kawasan Jalan Sudirman- Thamrin dan sejumlah kawasan baru yang dirancang mewakili modernitas justru menjadi kawasan langganan banjir dan kemacetan lalu lintas karena minimnya pembangunan saluran air yang terintegrasi dan minimnya pertambahan jalan raya.
Jakarta, berusahalah !