Jalan ambles

Buaya Tanpa Ekor di Jalan RE Martadinata

Kompas.com - 17/09/2010, 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga yang ingin melihat amblesnya sebagian badan Jalan RE Martadinata nekat melewati garis polisi. Mereka penasaran dengan cerita misteri di balik terjadinya peristiwa yang berlangsung Kamis (16/9/2010) dini hari kemarin.

Warga yang berkerumun di sekitar lokasi tersebut tidak hanya berasal dari daerah sekitar lokasi kejadian. Tumini, misalnya, berjalan kaki dari rumahnya di Kelurahan Warakas untuk melihat langsung jalan yang rontok ke dalam muara sungai tersebut.

Sebagian di antara mereka patuh menyaksikan lokasi kejadian dari balik garis polisi yang dipasang sekitar 100 meter dari ujung-ujung jalan ambrol. Namun, ada juga yang menyelinap melalui jalan tanah di samping Jalan RE Martadinata untuk melihat dari jarak dekat. Tak sedikit pula anak-anak di bawah 10 tahun nyelonong masuk melewati garis polisi. Mereka seperti tak menghiraukan imbauan petugas kepolisian ataupun satuan polisi pamong praja yang dengan galak meminta mereka menjauh.

Pengamatan Kompas.com, warga tak henti-hentinya datang ke tempat tersebut. Ketika shalat Jumat bahkan warga semakin berani melanggar garis polisi. "Penasaran sih, katanya malam Kamis ada buaya lewat," kata Tumini merujuk kepada cerita warga setempat mengenai buaya jadi-jadian di tempat tersebut.

Warga meyakini di tempat kejadian itu sering muncul kejadian-kejadian aneh. Mereka kerap mendengar ada buaya dan ular jadi-jadian yang melintas di Jembatan Volker, tak jauh dari lokasi ambrolnya jalan. "Orang sini sudah tahu ada buaya enggak punya ekor. Kadang ada ular yang ngikutin perahu," kata Yani (54), yang menjajakan minuman dan makanan ringan di sekitar lokasi.

"Coba datang setiap malam Jumat. Biasanya ada buaya atau ular yang ngikutin perahu. Saya sendiri ngalamin," kata Iwan (35), putra Yani.

Iwan sering membawa perahunya melewati jembatan di depan Gedung Pompa Air Sunter Utara yang letaknya berhadapan persis dengan lokasi jalan yang ambles. Di jembatan ini, warga sering menemukan hal-hal aneh, seperti bangkai motor tanpa diketahui pengemudinya. Ada pula mayat bayi yang tersangkut di tiang penyangga jembatan hingga cerita seorang anak yang selalu merengek minta dibawa ke jembatan tersebut setiap malam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau