Somalia

Istana Presiden Diserang Bom Bunuh Diri

Kompas.com - 21/09/2010, 04:03 WIB

MOGADISHU, KOMPAS.com — Seorang pelaku melancarkan serangan bom bunuh diri di pintu gerbang Istana Presiden Somalia di Mogadishu, Senin (20/9/2010), melukai dua prajurit.

Juru bicara kepolisian, Osman Aden, mengatakan, pelaku berusaha meloncat ke kendaraan lapis baja yang memasuki halaman istana yang merupakan bagian dari konvoi pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika.

Pasukan perdamaian menembaki penyerang untuk mencegah supaya tidak meloncat ke kendaraan itu dan ia meledakkan bomnya.

"Pada saat pelaku bom bunuh diri itu ditembaki, ia mendekati sejumlah prajurit yang berjaga di istana. Ia kemudian meledakkan dirinya. Dua prajurit kami mengalami cedera ringan oleh serpihan bom," katanya.

Belum jelas apakah serangan itu dilakukan Al-Shabaab yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda. Sebelumnya, bulan ini, serangan bom bunuh diri gerilyawan Muslim garis keras menewaskan dua prajurit Uni Afrika (AU) dan sejumlah warga sipil di bandara Mogadishu.

Pada 24 Agustus, dua orang bersenjata Al-Shabaab menyerang hotel di Mogadishu yang biasanya menjadi tempat menginap anggota parlemen dan pejabat lain.

Kedua gerilyawan itu meledakkan diri mereka, menewaskan 32 orang, termasuk empat anggota parlemen, setelah memberondongkan tembakan.

Beberapa sumber keamanan di Mogadishu mengatakan, Al-Shabaab memiliki tempat aman di Mogadishu dengan penyerang-penyerang bom bunuh diri yang siap dikerahkan kapan pun.

Seorang utusan PBB mengatakan, pasukan penjaga perdamaian internasional di Somalia perlu ditingkatkan menjadi 20.000 personel dalam beberapa bulan mendatang karena ancaman gerilya yang meningkat.

Misi Uni Afrika di Somalia (Amisom) yang membela pemerintah transisi yang dilanda kesulitan di Mogadishu memiliki batas wewenang 8.000 prajurit, tetapi hingga kini masih kurang 2.000 prajurit.

Al-Shabaab menguasai banyak wilayah tengah dan selatan Somalia, yang terperangkap ke dalam perang saudara selama dua dasawarsa terakhir.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli lalu. Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab, kelompok Muslim garis keras yang menguasai sebagian besar wilayah tengah dan barat Somalia, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibu kota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 76 orang.

Pengeboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pengeboman tahun 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim Al Qaeda.

Serangan-serangan bom pada 11 Juli itu dilakukan di sebuah restoran dan tempat minum yang ramai di Kampala ketika orang sedang menyaksikan siaran final Piala Dunia di Afrika Selatan.

Pemimpin Al-Shabaab telah memperingatkan dalam pesan terekam pada Juli bahwa Uganda akan menghadapi pembalasan karena peranannya dalam membantu pemerintah sementara Somalia yang didukung Barat.

Uganda adalah negara pertama yang menempatkan pasukan di Somalia pada awal tahun 2007 untuk misi Uni Afrika yang bertujuan melindungi pemerintah sementara dari Al-Shabaab dan sekutu mereka yang berhaluan keras di negara Tanduk Afrika tersebut.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau