Insiden hkbp

HKBP Pilih Ciketing Asem, Warga Menolak

Kompas.com - 22/09/2010, 12:38 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Pasca-penurunan papan penyegelan pertama terhadap rumah Jalan Puyuh Raya 14, Pemerintah Kota Bekasi mengadakan pertemuan. Pertemuan dipimpin Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad pada 2 Maret 2010. Salah satu kesimpulan pertemuan itu adalah Pemkot menawarkan tiga lokasi alternatif di Kecamatan Mustika Jaya kepada jemaat HKBP Pondok Timur Indah. 

"Tiga lokasi itu berupa sebidang tanah: 1) di Kampung Ciketing Asem RT 03 RW 06 Rawa Mulya seluas 2.400 meter persegi; 2) di Kampung Babakan RT 02 RW 02 Mustika Sari seluas 2.000 meter persegi; dan 3) Kampung Cimuning RT 01 RW 05 Cimuning seluas 4.000 meter persegi," kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, Badruzzaman Busyairi, Selasa (21/9/2010) di kantor sekretariatnya di Jalan Veteran, Bekasi.

Pertemuan tersebut dihadiri para pejabat Pemkot, Muspida Mustika Jaya, pendeta Luspida Simanjuntak, Roni Sitorus, dan perwakilan jemaat HKBP PTI.

Pada saat itu, Pemkot Bekasi pernah menawarkan tempat sementara untuk beribadah sambil menanti lokasi alternatif yang akan dipilih HKBP PTI.

"Tempat sementara itu di Gedung Panghudi Luhur, Kompleks Depsos, Jalan Joyomartono, Bekasi Timur, yang bisa dipakai selama 2,5 bulan, terhitung sejak 2 Maret 2010," kata Badruzzaman.

Dia mengatakan, pihak HKBP telah menyepakati untuk beribadah di gedung milik Kemsos itu.

"Sayangnya dalam pelaksanaan, jemaat HKBP tidak beribadah di sana sehingga masyarakat Mustika Jaya kembali menggelar aksi mendesak Pemkot Bekasi untuk segera menyelesaikan masalah," ujar pemimpin Forum Lintas Agama di Bekasi itu dalam keterangan persnya.

Pada 23 Maret 2010, Pemkot Bekasi memasang kembali papan penyegelan rumah di Jalan Puyuh Raya 14 yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi bersama pihak HKBP PTI dan kalangan tokoh masyarakat.

"Ada solusi yang dihasilkan, yaitu pengalihan tempat ibadah di Lipisos. Namun, HKBP tak mau menerima itu dan tetap melakukan kebaktian di rumah yang disegel. Sampai-sampai, mereka mengadu ke PTUN atas penyegelan rumah itu. Proses tersebut masih berlangsung," ujar Badruzzaman.

Selanjutnya, Pemkot Bekasi menggelar empat kali pertemuan pada 21 Juni, 5, 8, dan 9 Juli 2010 untuk mencari solusi tempat pelaksanaan kebaktian jemaat HKBP PTI.

"Pada tanggal 9 Juli 2010 itu, Sekda Pemkot Bekasi mengeluarkan surat No 460/1529 /Kessos/VII/ 2010 yang meminta tiga hal, di antaranya, pertama, agar Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi menyampaikan kepada pendeta dan atau jemaat HKBP PTI untuk tidak beribadah di rumah tinggal di Jalan Puyuh Raya 14, melainkan di tempat lain, baik milik sendiri maupun milik orang lain, dan telah mendapatkan izin dari pemiliknya," ucap Badruzzaman.

Kedua, agar camat dan anggota instansi terkait lainnya serta FKUB melakukan sosialisasi dalam rangka menciptakan kerukunan umat beragama. Ketiga, supaya aparat penegak hukum dan keamanan melakukan pengamanan dalam acara kebaktian jemaat HKBP PTI.

Pada Minggu (11/7/2010), jemaat HKBP PTI tak lagi beribadah di rumah Jalan Puyuh Raya, tetapi di Kampung Ciketing Asem sesuai opsi alternatif yang ditawarkan Pemkot Bekasi (2/3/2010).

"Warga tetap menolaknya dan memasang berbagai spanduk penolakan di sekitar lokasi. Lahan di Ciketing Asem ini berupa lahan kosong yang hanya tumbuh satu pohon rambutan," kata Badruzzaman yang selalu mengenakan baju koko itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau