Perbankan

BI Garap Nomor Identitas Keuangan

Kompas.com - 28/09/2010, 09:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia tengah mengerjakan program nomor identitas keuangan (financial identity number). Pemberian identifikasi tunggal adalah bagian dari upaya Bank Indonesia meningkatkan jumlah penduduk yang layak menjadi nasabah perbankan.

”Program ini memungkinkan bank dan penyedia jasa keuangan lainnya mengakses riwayat kredit nasabah melalui sistem biro kredit tersentralisasi,” kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jimbaran, Bali, Senin (27/9/2010), dalam pidato pembukaan Alliance for Financial Inclusion (AFI) Global Policy Forum, yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. AFI berlangsung 27-29 September 2010.

Dia menjelaskan, di negara maju, nomor identitas keuangan (FIN) tunggal tampak tumpang tindih dengan nomor jaminan sosial dan lain-lain.

Namun, di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, tersebar di lebih dari 13.000 pulau, FIN sangat dibutuhkan.

Program FIN, kata Darmin, bukan sekadar kajian BI. Model dan konsepnya dirancang berbarengan dengan peluncuran program Tabunganku, tahun lalu. Penyusunan FIN tidak perlu menunggu pemerintah membuat single identity number karena bisa saling melengkapi.

Namun, Darmin menegaskan, pemberian FIN harus diimbangi dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi. ”Tanpa memberdayakan masyarakat untuk tanggung jawab atas masa depan keuangannya, program FIN tidak akan memberikan hasil yang diharapkan,” kata Darmin.

Berantas kemiskinan

Dalam sambutannya saat membuka AFI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat internasional memberantas kemiskinan dengan menciptakan terobosan dan inovasi inklusi keuangan.

Melalui inklusi keuangan yang inovatif, diharapkan semakin banyak masyarakat miskin yang terjangkau pelayanan jasa keuangan sehingga memiliki kesempatan hidup lebih sejahtera.

Inklusi keuangan, kata Presiden, akan menghubungkan kelompok masyarakat yang sebelumnya dikucilkan dari ekonomi formal ke akses jasa keuangan yang terjangkau.

”Kita harus bekerja sama mempercepat inklusi keuangan. Saya ajak semua peserta forum menetapkan target, tujuan, dan komitmen secara nasional serta mengalokasikan anggaran tertentu untuk inklusi keuangan,” ujar Yudhoyono.

Menurut Darmin, kebijakan paling efisien untuk mengatasi kemiskinan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan kontribusi sektor keuangan melalui akses terhadap pendanaan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Direktur Eksekutif AFI Alfred Hannig mengatakan, 2,5 miliar orang di dunia tidak memiliki akses atas layanan keuangan. Dia menjelaskan, syarat membangun inklusi keuangan yang inovatif adalah kepemimpinan yang inovatif, kemitraan inovatif, serta komunitas kebijakan yang lebih dalam dan jaringan yang lebih luas. Menurut Gubernur Bank Sentral Kenya Njuguna Ndung’u, yang juga Ketua Panitia Pengarah AFI Global Policy Forum 2010, tahun 2012, AFI menargetkan tambahan 50 juta orang berpenghasilan kurang dari 2 dollar AS per hari memiliki akses layanan keuangan formal.

(REI/Antara)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau