KOMPAS.COM –Sebuah analisis yang ditulis oleh Detnews.com kemarin yang dikutip dari pengamatan Masatohsi Nishimoto, dari IHS Automotive di Detroit, cukup menarik digunakan sebagai refrensi. Tidak hanya dilihat sebagai sebagai tren bisnis mobil global, juga kondisi lalu lintas. Pasalnya, diperkirakan – jangka panjang – jumlah mobil di jalanan Jepang akan berkurang.
Lho kok bisa? Nah, dari sinilah kita belajar, terutama bagi mereka yang membuat keputusan kebijakan tentang transportasi di kota besar, khususnya Jakarta yang makin macet dan membuat banyak orang kian stress berat karena tak kunjung mendapatkan solusi!
Yen Menguat Akhir-akhir ini, produsen Jepang makin getol “mengekspor perakitannya” keluar dari negeri tersebut. Toyota, Honda, Nissan dan yang lainnya mendirikan basis produksi baru di China, India dan Eropa, Amerika Serikat dan juga di ASEAN, termasuk Indonesia.
Mereka terpaksa “mengekspor” sendiri pabriknya ke luar negeri. Penyebabnya, menurut Masatoshi Nishimoto, nilai tukar yen terus menguat. Satu dolar sama dengan 84 yen. Bahkan pernah 83 yen. Akibatnya, mobil yang dirakit di Jepang dan diekspor secara utuh ke negara lain, jadi mahal. Daya saingnya melemah!
Agar tetap kompetitif, pabrik atau pembuatannya harus dipindah keluar dari Jepang. Di Amerika Serikat sendiri, sampai 2017 akan didirikan empat pabrik baru oleh produsen Jepang. Malah, produsen Jepang, kini tak segan-segan lagi bekerjasama dengan produsen China untuk membuat mobil, baik untuk dipasarkan di negara tersebut atau diekspor ke negara lain.
Jumlah produksi produsen mobil Jepang seperti Toyota, Honda dan Nissan dan lainnya di Amerika Utara mencapai 5.36 juta mobil dan truk ringan di Amerika Utara. Sampai 2016, produsen Jepang berusaha bisa menambahkan lagi jumlah produksi 800.000 kendaraan per tahun. Hal yang sama juga dilakukan di India, China dan negara ASEAN lainya.
Di Jepang, saat ini total mobil dan truk yang diproduksi hanya 9 juta unit. Puncaknya beberapa tahun terakhir, 10 juta unit. Produsen Jepang kini mengenjot memindahkan pabriknya ke luar Jepang agar tidak mengalami kesulitan memperoleh uang dari ekspor. “Sekarang makin sulit bagi produsen Jepang memperoleh untung dari ekspor mobil dalam bentuk utuh,” lanjut Nishimoto.
Toyota “Toyota melihat, fluktuasi nilai tukar sebagai biaya bisnis global,” kata juru bicaraToyota di Amerika, Jim Wiseman. Ditambahkan, 65 persen dari kendaraan merek Jepang yang di jual di Amerika Serikat dibuat di Amerika Utara. “Itulah cara kami menghemat ongkos,” jelas Wiseman.
Ditambahkan, turunnya penjualan domestik Jepang adalah refleksi suramnya demografi pasar di negara tersebut dan hanya mencapai puncak pada 1990. Penyebab lain, menurutnya, populasi orang mudah Jepang menyusut. Pemulihan ekonomi pun terhenti.
Miskin Analisis Nigel Griffiths kepala ekonomi otomotif di IHS tentang, seperti yang dilansir Detnew.com, lebih parah lagi. “Fundamental mereka miskin,” ujarnya. Nah, lho? Ia sendiri tidak menjelaskan lebih lanjut kriteria kemiskinan tersebut. (Biaya hidup makin mahal?)
Namun tak kalah menarik adalah analisis oleh faktor lain. “Anak muda di Jepang tidak tertarik dengan kendaraan dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Jika anda melihat anak muda Jepang sekarang , mereka tidak banyak yang mengambil tes mengemudi setelah 5 sampai 10 tahun lewat dari batas umur terendah memperoleh SIM. Ini merupakan sebuah indikator,” tegasnya.
Ditambahkan pula, “Mereka sangat urban. Memperoleh banyak opsi. Termasuk transportasi umum.” Karena itu pula, Griffiths langsung membuat kesimpulan, “Jepang akan menjadi negara pertama di dunia - dalam jangka panjang - kita melihat terjadinya penurunan jumlah kendaraan di jalanan.”
Selama bertahun-tahun, eksekutif produsen mobil dan analis berharap, negara lain jangan sampai mengikuti langkah Jepang. “Jepang menjadi asing,” tambahnya Ia pun memperkirakan, negara-negara di Eropa akan menyusul Jepang. Alasannya, “Populasi orang yang sudah berumur makin banyak, infrastruktur juga makin baik.” Gitu toh!
Sumber: Detnews.com
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang