Konflik dipasena

Bupati Bujuk Plasma Kembali ke Rawajitu

Kompas.com - 01/10/2010, 17:30 WIB

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com - Bupati Tulang Bawang Abdurrachman Sarbini datang menemui para petambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) yang hingga kini masih bertahan di Kompleks Gedung DPRD Provinsi Lampung, Jumat (1/10).

Dalam pertemuan dengan para petambak, Sarbini yang akrab disapa Mance mengajak mereka pulang ke Rawajitu, Kabupaten Tulang Bawang.

"Tadi saya sudah berkomunikasi dengan Gubernur (Lampung). Kami sependapat untuk bertemu dengan Presiden . Persoalan ini alhamdullilah sudah didengar oleh SBY," ujar Mance dengan didampingi puteranya Aries Sandi yang juga Bupati Pesawaran di depan ratusan plasma.

Terkait penahanan Ketua Perhimpunan Petani Petambak Plasma Windu (P3UW) Nafian Faiz dan sejumlah pengurus P3UW lainnya, Mance mengatakan, "Saya malam ini akan musyawarah dengan Kapolda terkait penangguhan (penahanan). Percayakan kepada saya untuk mengurus adik kita Nafian," ujarnya.

"Dalam pertemuan ini, Mance sempat menyerahkan uang Rp 5 juta untuk ongkos bensin para plasma kembali ke Rawajitu. Silahkan dibagi rata untuk beli bensin, pulang ke Rawajitu," ujarnya.

Jusmin, perwakilan pengunjuk rasa, menghargai niatan baik Bupati Tuba yang datang menemui langsung mereka. "Pada dasarnya kami harga niat baik, bagaimanapun dia kan bapak kami . Tetapi, rakyat kan punya pandangan lain. Kami tidak akan pulang sebelum ketua dilepas," ujarnya.  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau