KOMPAS.com - Optimisme tetap membuncah di dada Presiden Palestina Mahmood Abbas. Menghadapi perundingan dengan Israel kembali, ia memang butuh "peluru" baru demi meloloskan kepentingan rakyatnya itu. Makanya, ia pun, sebagaimana catatan media massa AP dan AFP pada Sabtu (2/10/2010), bertemu dengan para pemimpin Palestina lainnya. Agendanya, menemukan solusi-solusi paling anyar terkait proses perdamaian dengan Israel.
Jadwal perundingan sementara tertunda karena Israel menolak memperpanjang pembekuan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat.
Sementara, Abbas menyadari kemungkinan akan menghadapi sejumlah pernyataan keras dari para pemimpin PLO. Di sisi lain, Palestina harus menarik diri dari pembicaraan kecuali bila Israel menyepakati pembekuan pemukiman. Media Israel dan Amerika menyebutkan Netanyahu menolak tawaran Amerika atas sejumlah bantuan dengan imbalan perpanjangan moratorium pembangunan permukiman selama dua jam.
Moratorium sepuluh bulan pembangunan rumah baru di permukiman Yahudi berakhir seminggu lalu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu -yang menghadapi tekanan dari kelompok sayap kanan di pemerintahnya- masih belum menjawab tuntutan masyarakat internasional untuk memperpanjang moratorium pembangunan.
Pada sisi lain, utusan khusus Amerika George Mitchell dan juru runding dari Eropa mengunjungi Timur Tengah untuk mencoba mencari jalan tengah bagi kedua belah pihak, namun upaya itu belum menunjukkan hasil. Sebelumnya, Mitchell dan Abbas mengadakan pertemuan selama dua jam di Ramallah, Kamis lalu.
Israel menduduki Tepi Barat sejak perang Timur Tengah pada 1967 dengan menempatkan sekitar 500.000 warga di lebih dari 100 pemukiman yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional. Tetapi Israel menyangkal.
Sekitar 2,5 juta warga Palestina tinggal di Tepi Barat.
Hamas yang menguasai Jalur Gaza namun tidak terlibat dalam pembicaraan dengan Israel mendesak Mahmood Abbas untuk menarik diri dari pembicaraan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang