Bebaskan kapten china

Popularitas PM Jepang Merosot

Kompas.com - 04/10/2010, 13:14 WIB

TOKYO, KOMPAS.com — Dukungan publik terhadap Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menurun drastis akibat penanganan pemerintah terhadap persengketaan perbatasan dengan China, demikian menurut hasil survei yang terbit Senin (14/10/2010).

Survei itu dilakukan akhir pekan lalu menyusul perdebatan sejak penangkapan Jepang terhadap kapten kapal nelayan China pada 8 September di dekat kepulauan Laut China Timur. China bereaksi keras terhadap penahanan tersebut dengan menolak partisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi dan memblokade pengiriman komoditas ke Jepang.

Jepang telah melepaskan kapten kapal itu, tetapi tindakan tersebut menyebabkan Kan, yang berhaluan tengah kiri, menjadi sasaran serangan di dalam negeri oleh politikus konservatif yang menyatakan ia telah menyerah pada ancaman China. Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh surat kabar Yomiuri Shimbun, dukungan publik untuk pemerintahan Kan jatuh hingga 53 persen, menurun 13 poin dibanding bulan lalu.

Berdasarkan jajak pendapat terhadap 1.104 respoden itu, 72 persen mengatakan, tidak sepantasnya Jepang membebaskan kapten kapal China; dan lebih dari 40 persen mengatakan, Tokyo memberikan kesan mudah menyerah terhadap tekanan.

Hasil survei lain yang dilakukan oleh Mainichi Shimbun menunjukkan, peringkat dukungan merosot hingga 49 persen, turun 15 poin. Sementara 80 persen dari 966 reponden menyebutkan, Pemerintah Jepang seharusnya membuat penilaian politik yang jelas mengenai masalah tersebut. Pemerintah Jepang mempertahankan argumennya bahwa tidak ada campur tangan politik terhadap keputusan jaksa untuk melepas nelayan China tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau