Trimedya: Timur Produk Kompromi Politik

Kompas.com - 05/10/2010, 11:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi III Trimedya Panjaitan melihat, pencalonan Komjen Timur Pradopo sebagai Kapolri merupakan produk kompromi politik antara Presiden SBY dan kekuatan-kekuatan politik yang melingkarinya dalam barisan koalisi. Keputusan Presiden memilih Timur di saat-saat terakhir pencalonan dinilai karena kuatnya tekanan politik.

"Saya meyakini Timur Pradopo ini akibat kuatnya tarik-menarik politik di Setgab terhadap dua calon yang muncul terdahulu," kata Trimedya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/10/2010). Dua nama yang dimaksudnya adalah Komjen Nanan Sukarna dan Komjen Imam Sudjarwo.

"Ada partai koalisi yang tidak firm dengan dua calon itu. Maka, kemudian muncullah nama Pak Ito Sumardi (Kabareskrim), asal jangan dua nama ini. Setelah itu, entah bagaimana akhirnya ke Timur Pradopo," kata Ketua Bidang Hukum DPP PDI Perjuangan ini.

Menurut ketentuan UU, pencalonan Kapolri memang merupakan kewenangan penuh Presiden. Namun, UU juga mengatur bahwa Presiden mendapatkan masukan dari Komisi Kepolisian Nasional. Sedangkan nama Timur tak masuk dalam list calon yang diusulkan Kompolnas kepada Presiden.

"Di Kompolnas itu kan sekretarisnya ada Menkumham Patrialis Akbar. Artinya, lembaga itu juga perpanjangan tangan pembantu Presiden. Tapi ternyata pernyataan Presiden yang ingin memperkuat Kompolnas hanya omong kosong. Buktinya, masukan Kompolnas juga tidak dipertimbangkan," ujarnya.

Lembaga-lembaga hukum, menurut dia, sangat rentan diintervensi dan dikuasai oleh kekuatan politik. Oleh karena itu, komitmen netralitas Polri akan ditekankan dalam uji kelayakan dan kepatutan terhadap Timur. "Agar Polri tidak terlalu jauh terseret ke ranah politik," ujar Trimedya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau