Lambang kepresidenan jatuh saat obama pidato

Pertanda Buruk Pemerintahan Obama?

Kompas.com - 07/10/2010, 09:51 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Plakat lambang kepresidenan Amerika Serikat, yang berbentuk lingkaran dan bergambar burung rajawali, jatuh dari podium tempat Presiden Barack Obama berpidato dalam sebuah konferensi perempuan di Auditorium Carnegie-Mellon, Washington DC, AS, Selasa (5/10/2010) malam.

Begitu plakat, yang digantungkan di bagian depan podium, itu jatuh ke panggung, Obama sempat melongok ke depan podium ke arah jatuhnya plakat, lalu berseloroh, ”Tidak apa-apa, toh Anda semua tahu siapa saya.” Selorohan itu langsung disambut tawa hadirin.

”Tetapi, saya yakin di belakang sana ada seseorang yang sedang sangat gugup sekarang,” imbuh Obama, mengacu pada salah satu stafnya yang menggantungkan plakat itu dengan sembrono.

Lambang kepresidenan AS adalah lambang resmi yang digunakan setiap presiden AS dalam surat-menyurat ataupun di tempat atau benda yang melambangkan kehadiran presiden, seperti di pesawat Air Force One, helikopter Marine One, mobil limusin kepresidenan, hingga Kantor Oval di Gedung Putih dan setiap podium tempat presiden berpidato.

Insiden tersebut terjadi di tengah-tengah pidato Obama saat memberikan sambutan pada konferensi The Most Powerful Women, yang dihelat majalah Fortune.

Untung saja Obama menjadi presiden sebuah negara maju yang sebagian besar rakyatnya sudah tidak percaya takhayul. Andai kejadian itu terjadi di Indonesia, misalnya, bisa jadi orang akan mengait-ngaitkan insiden sepele itu sebagai pertanda buruk atau sejenisnya.

Apalagi, saat ini Obama dan partainya, Partai Demokrat, sedang menghadapi pemilu legislatif. Hasil beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan prospek kurang bagus bagi Demokrat. Condong ke Republik

Salah satu jajak pendapat yang digelar Associated Press dan GfK Roper Public Affairs & Corporate Communications, bulan lalu, menunjukkan, kalangan pemilih dari kelas pekerja kulit putih cenderung akan memilih wakil rakyat dari Partai Republik.

Sebanyak 58 persen responden jajak pendapat dari kalangan warga kulit putih kelas pekerja tanpa gelar sarjana menyatakan akan memilih Republik. Kelompok masyarakat ini memang dikenal lebih konservatif dan selalu condong ke Partai Republik.

Kelas pekerja ini juga merasa terkena dampak langsung krisis ekonomi berkepanjangan di bawah pemerintahan Presiden Obama dan Kongres yang dikuasai mayoritas dari Partai Demokrat.

Meski demikian, Partai Demokrat masih mendapat dukungan dari golongan masyarakat Afrika-Amerika, Hispanik, dan pemilih muda.

Dalam jajak pendapat yang digelar Pew Hispanic Center, dua pertiga masyarakat keturunan Spanyol dan Amerika Latin ini menyatakan akan mendukung Partai Demokrat. Akan tetapi, hanya 50 persen dari pemilih terdaftar dari golongan ini yang menyatakan akan mencoblos dalam pemilu.

”Meski mereka bilang akan mencoblos, banyak hal bisa terjadi yang bisa menghalangi mereka benar-benar akan ikut pemilu,” tutur Mark Lope, salah satu direktur Pew Hispanic Center.

Kaum Republikan diduga akan meraih kemenangan besar pada pemilu 2 November, dan bisa jadi akan merebut mayoritas kursi di DPR dan Senat dari tangan Demokrat. (AP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau