Panda "Buka Kartu" soal Lobi Pimpinan

Kompas.com - 07/10/2010, 16:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom, anggota Komisi III DPR, Panda Nababan, hanya beberapa kali terlihat hadir dalam sejumlah rapat komisi.

Hari ini, Kamis (7/10/2010), Panda mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak pagi hingga sore ini. Kesempatan ini digunakan Panda untuk meluapkan kekecewaannya. Salah satu hal yang diungkapkan Panda adalah mengenai kecurigaan atas pertemuan antara dirinya dan Miranda sebelum proses fit and proper test oleh Komisi IX (pada periode 1999-2004, Panda duduk di Komisi IX).

Menurut Panda, lobi sebelum proses uji kelayakan merupakan hal yang wajar. Hal itu, kata dia, juga dilakukan oleh Pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, sebelum diuji Komisi III sebagai calon Pimpinan KPK.

"Saya (saat diperiksa KPK) ditanya pertemuan dengan Miranda di (Hotel) Dharmawangsa. Seolah-olah pertemuan itu kok gawat banget," kata Panda di sela RDP dengan KPK, di Gedung DPR, Jakarta.

Dikatakan Panda, dirinya pernah bertemu Chandra M Hamzah sebelum proses uji kelayakan dan kepatutan. Pertemuan digelar di Hotel Hilton (sekarang Hotel The Sultan). Pertemuan yang sama juga pernah dilakukan dengan Bibit Samad Rianto di sebuah tempat.

"Pertemuan itu dalam rangka menjajaki agar dapat dukungan, lobi, itu hal yang wajar. Bukan beliau saja, ketika zaman Pak Sutanto (mantan Kapolri) juga begitu. Tapi bisa tanya Chandra, tidak ada satu rupiah pun," kata politisi senior PDI Perjuangan ini. "Pertemuan dengan calon itu biasa. Kok seolah-olah genting dan gawat sekali," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau