Olimpiade penelitian siswa

Inilah, Bakso Keong ala Pratama....

Kompas.com - 08/10/2010, 09:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dari hama menjadi ladang wirausaha, kiranya itulah ide penelitian yang muncul di benak Pratama Rachmat Wijaya, siswa SMA 1 Muhamadiyah, Solo, Jawa Tengah. Di tangan Pratama, keong yang selama ini hanya menjadi hama padi dan musuh petani, diteliti untuk menjadi bahan daging bakso yang lezat dan menguntungkan.

Pratama adalah satu dari 95 peserta tingkat SMP-SMA yang menggelar hasil penelitiannya pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2010 di Jakarta sejak 4 hingga 9 Oktober 2010.

"Penelitian saya ini memang lebih mengedepankan sisi wirausaha ekonomi masyarakat desa, karena keong yang merupakan hama tanaman padi bisa dimanfaatkan untuk membuat daging bakso," ungkap Pratama kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (4/10/2010).

Pratama menambahkan, ditinjau dari aspek ekonomi, petani mengalami kerugiam besar karena hama keong. Untuk itu, penelitian yang dilakukannya diupayakan dapat membantu kerja petani, yaitu membasmi keong dengan cara memanfaatkan dan mengubahnya menjadi bermanfaat sebagai lahan wirausaha daging bakso.

"Satu kilogram daging keong dijual Rp 10.000. Jika diolah dengan bumbu dan sayur-sayuran, modal awal untuk 20 mangkok bakso yang siap makan sebesar Rp 34.000. Dari modal itu kemudian dibagi menjadi 20 mangkok, maka satu mangkok bisa dijual Rp 1.700. Penjual bisa menjualnya Rp 3.500. Maka, jika dihitung-hitung, satu mangkok bisa untung Rp 1.800," jelas Pratama.

Dia memaparkan, dilihat dari kesehatannya, daging keong pun lebih banyak keunggulannya dibandingkan daging ayam. Untuk bakso ayam kandungan kalorinya 51, 56 %, sedangkan bakso keong 134, 76 %. Untuk karbohidrat, bakso ayam memiliki kandungan hingga 7,30 %, sementara bakso keong memiliki nilai karbohidrat hingga 33, 69 %.

"Proses penelitian ini saya kerjakan selama 1,5 bulan. Idenya dari menonton TV, saya melihat banyak petani yang merugi akibat hama ini, padahal hama ini bisa dimanfaatkan," lanjut Pratama.

"Teksturnya juga lebih kenyal seperti bakso urat dan warnanya agak gelap," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, OPSI 2010 yang digelar untuk kedua kalinya ini diharapkan mampu menjadi wahna pengembangan dan kompetisi dalam bidang penelitian bagi siswa/siswi tingkat SMP dan SMA, baik bersifat pengungkapan (discovery) maupun penemuan (inovation). Dibuka sejak Rabu (4/10/2010), OPSI diikuti 95 peserta dari tingkat SMP-SMA dan akan ditutup pada Sabtu (9/10/2010).

Selain "Bakso Keong" karya SMA 1 Muhammadiyah Solo, penelitian lain yang unik dan menarik untuk dilihat di OPSI 2010 adalah "Seni Wayang Potehi" karya SMAN 3 Kediri dan "Tren Lesbian pada Remaja" karya SMA RSBI Negeri 1 Cibadak, Jawa Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau